Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Januari 2014

Berlari Mengejar Impian

Ini adalah cerpen karya adikku yang telah aku edit di beberapa tempat. Semoga ceritanya bisa memotivasi kita betapa pentingya semangat untuk meraih impian. Karena kesempatan bisa datang kapan saja. Berutunglah bagi orang yang siap, siap menghadapi kesempatannya tersebut dengan usaha yang terbaik. Silakan menyimak. :)

***

Bel tanda akhir sekolah berbunyi. Murid-murid berhamburan keluar kelas. Ah, banyak dari mereka yang tak menikmati yang namanya menuntut ilmu. Ditambah lagi esok adalah hari minggu. Hari dimana melepaskan penat setelah seminggu belajar di kelas. Mereka seharusnya memanfaatkan kesempatan emas untuk berkarya di SMP ini sebelum mereka duduk di semester akhir kelas 9 seperti diriku. Dimana beberapa bulan lagi masa menuntut ilmuku di SMP ini akan berakhir.
Aku pun segera berkemas untuk pulang. Seperti biasa setiap pulang sekolah aku selalu sempatkan untuk mengunjungi rak itu. Rak yang membuatku selalu mengingat kembali pada masa itu, masa yang memberikan pencerahan bagi diriku bak matahari yang terbit setelah hujan reda. Melahirkan pelangi yang indah menawan. Aku berusaha mengingat-ingat lagi lebih jauh pada masa itu. Senyum tersimpul dari bibirku.

***

Pagi ini, langit tampak mendung. Rintik hujan mulai turun, perlahan, sunyi tanpa suara, mendarat di atas kaca jendela perpustakaan, tepat dihadapanku. Di saat yang sama hatikupun sedang demikian. Mendung, aku gelisah. Aku memandangi parkiran sepeda dari jendela sambil menopangkan dagu di atas tangan. Aku masih mengharap secarik piagam di genggamanku. Satu saja pun tak masalah bagiku. Ya, satu saja. Guruku sering mengikutsertakan aku dalam lomba sains. Namun, dari sekian lomba yang aku ikuti, belum ada penghargaan yang dapat kuraih. Impian itu kian menjadi sebuah angan yang tak terwujud. Hanya menambah koleksi impian-impian lainku yang tak pula kunjung terwujud. Ah, sedihnya.
Jam pelajaran terakhir kosong, namun kami tak diizinkan pulang oleh guru piket sebelum bel tanda pulang berbunyi. Sebagian temanku ada yang tetap menunggu di kelas, sebagian lainnya di kantin dan sisanya menunggu di perpustakaan, termasuk diriku. Perpustakaan adalah tempat favoritku. Namun entah mengapa, kali ini suasana di perpustakaan nampak suram bagiku. Pasti karena gundah dalam hatiku ini. Jadi aku putuskan keluar. Mungkin dengan mengambil sedikit udara segar aku akan baikan.
Aku menyukai suasana hujan. Suara benturan halus bulir hujan yang menghujam daratan, membentuk sebuah simponi suara yang menenangkan dan mendamaikan. Aku menghirup nafas dalam-dalam, bau tanah basah ini memang menyegarkan. Lagi-lagi aku memohon hujan untuk menghiburku.
Sebentar lagi aku akan menghadapi ujian akhir semester atau UAS. Aku sudah tak begitu bersemangat menghadapi UAS seperti dulu. Kuakui aku merasa kecewa pada diriku sendiri. “Ah, apa yang bisa kubanggakan dari dariku”, ujarku dalam hati. Aku merasa sudah berusaha sangat keras dan selalu berdoa agar aku mendapat kesempatan itu. Namun hal itu tak kunjung membuahkan hasil.
“Semua ini adalah yang terbaik dari Allah untukku. Cheer up, it’s okay! It’s not the end of everything,” ujarku pada diriku sendiri. Aku kembali terdiam, air mata ini tiba-tiba saja membasahi pipi. Hujan semakin deras.
“Krrriiiiiiiiiinnng..,” suara bel tanda sekolah usai membuyarkan lamunanku. Aku teringat hari ini akan ada pendalaman materi atau biasa kami sebut PM untuk pertama kalinya. PM adalah program khusus dimana kami akan belajar lebih intensif untuk menghadapi UAS. Kami pun bergegas turun dari kelas menuju lab biologi, tempat PM kami. Aku dan teman-temanku pun bersenda gurau di depan lab biologi sembari menunggu guru PM yang datang.
“Nafis.. Rizky.. Fai..” dalam gemuruh hujan, aku mendengar seseorang memanggil namaku. Aku pun menoleh ke arah koridor di sisi kiriku dan ternyata dia adalah guru biologiku, Pak Syauqi. Entah mengapa perasaanku mulai tak enak, seperti ada sesuatu yang mengusik saat itu. Aku pun sempat berpikir yang tidak-tidak, seperti kesalahan yang pernah kulakukan dulu terhadap beliau. Lalu, kami pun menghampiri pak Syauqi.
“Ada apa ni Pak, kok kita dipanggil. Hehe…?” tanya Fai cengengesan.
“Bapak dapat undangan dari dinas untuk lomba Karya Ilmiah Remaja. Kalian ikut ya. 1 kelompok 5 orang” , kata pak Syauqi.
“Hah? Lomba apa pak?” tanyaku.
“Kalian tinggal siapkan karya tulis aja. Idenya kalian yang tentukan.”
Tentu saja aku terkejut mendengarnya. Ditambah lagi hal itu diajukan untuk suatu ajang perlombaan yang artinya kami akan mewakili sekolah kami. Tiba-tiba jantungku berdegup lebih kencang. Entah apa yang seharusnya kurasakan. Apakah bahagia? Senang? Terkejut? Atau rasa takut akan kegagalan yang akan terulang seperti dulu?
Kami hanya bertiga. Diperlukan dua orang lagi untuk ikut bergabung dalam kelompok kami. Kami pun memutuskan untuk mengajak Azkiya, salah satu teman sekelas kami. Dia juga teman baikku, sehingga aku yakin dia bisa menjadi partner yang baik dalam kelompok kami. Dan seperti yang kuduga, tanpa basa-basi, dia segera mengiyakan ajakan kami. Untuk satu anggota lagi kami ingin merekrut Acha. Dia adalah anak yang pandai. Rangkingnya di kelas selalu saja tinggi. Dia tak pernah keluar dari zona 3 besar tertinggi di kelas kami. Awalnya di susah untuk kami ajak karena dia ingin fokus ke UASnya. Dia tak begitu tertarik untuk mengikuti KIR di saat ini. Namun, setelah lama kami bujuk, dia pun akhirnya mengiyakan. Nampak semakin lengkaplah regu kami. Lalu, kami putuskan untuk berdiskusi di rumah Rizky seusai PM ini. Mendung di hatiku mulai sirna. Aku merasa ada secercah harapan untuk kesempatan ini. Hujan di luarpun mereda. Nampak matahari mulai cerah setelah disembunyikan awan.

***

Aku memandangi halaman luar rumah Rizky yang luas dari jendela. Kami berusaha mencari ide untuk KIR kami. 20 menitpun berlalu tanpa suara kecuali dengan bergumam saja. Tiba-tiba mataku tertuju pada tempat sampah yang berada di ujung kamar. Aku mengamati tempat sampah tersebut. Apa yang bisa aku ciptakan dengan tempat sampah itu. Suatu ide pun muncul dalam pikiranku.
“Eh-eh, gimana kalo kita bikin tempat sampah?” usulku disambut dengan wajah-wajah heran teman-temanku.
“Ha? Tempat sampah? Maksud loe?” tanya Fai. Dahinya berkerut.
“Idih, masak bikin tempat sampah sih. Kan dah banyak, Fis”, ujar Acha.
“Iya, aku tau Cha, kita bakal buat tempat sampah yang beda. Tempat sampah otomatis. Kalo bahasa inggrisnye ye, auto trashbin!” jelasku dengan mata berbinar.
“Kedengarannya menarik tu Fis”, sahut Rizky.
“Di sekolah kita kan ada 3 jenis tempat sampah ya. Organik, anorganik, dan khusus limbah”, lanjutku.
“Iya, emang kenapa sama tempat sampah ntu?” Tanya Fai penasaran. Alisnya naik turun.
“Meski dah tersedia tempat sampah itu, tapi belum banyak anggota sekolah yang membuang sampah sesuai dengan kategorinya, kan? Jadi daripada tempat sampahnya ada 3, mending dibikin jadi 1. Jadi, tempat sampah itu ada sensor yang bisa ngedeteksi jenis sampah dan setelah terdeteksi ada suatu sistem untuk memisahkannya. Jadi gak tercampur aduk melainkan terpisah secara otomatis. Paham kagak ni?”, jelasku lagi.
“Wah boleh juga tuh idemu. Yuk segera kita kembangkan!” dukung Azkiya.
“Gue juga setuju tu. Hehe”, ucap Fai sambil memamerkan giginya yang gingsul.
Esoknya kami diskusikan hal ini bersama Pak Syauqi. Ide ini terdengar sederhana, namun kenyataannya tak sesederhana yang kami pikirkan. Karena kesulitan tersebut teman-teman kami nampak pesimis. Akupun menyimpan ide tersebut, berharap menemukan sesuatu yang lebih baik untuk dijadikan karya tulis.

***

Hari demi hari pun berlalu. Tak terasa kami sudah duduk di semester 1 kelas 9. Tim kami tak kunjung menemukan ide yang cocok untuk dijadikan karya tulis. Yah, kami akui kesalahan ada pada tim kami. Karena kesibukan masing-masing selama liburan kenaikan kelas, karya ilmiah kami terbengkalai.
Pak Syauqi sudah tidak mengajar di kelasku lagi. Saat aku bertemu di awal semester ini beliau hanya tersenyum halus dan bertanya tentang kabarku dan teman-teman. Ya, beliau tak pernah memaksa kami untuk menyelesaikan karya ilmiah ini. Aku tahu beliau tidak pernah memaksa murid-muridnya, hanya menyarankan yang terbaik kepada murid-muridnya saja. Semua itu kembali pada si murid. Karena menurutnya memaksa murid untuk lomba dan meraih juara adalah suatu hal yang tidak baik. Namun aku tahu, di setiap senyum dan sorotan mata pak Syauqi, beliau selalu berharap agar murid-muridnya sukses di masa depan. Beliau akan terus setia menanti kabar. Kabar yang baik dari murid-muridnya.

***

Waktu, lagi-lagi berjalan cepat. Bahkan aku hampir tidak merasakannya. Ini adalah minggu terakhir libur Idul Fitri kami. Tiba-tiba bundaku spontan menanyakan tentang karya ilmiahku.
“Nafisa dah gak semangat bun”, ujarku lemas.
“Lhoh kok gitu sih. Ini kesempatan terakhirmu lho. Siapa tau bisa juara. Bunda dukung deh”, ujar bunda dengan penuh kasih sayang.
“Tapi projeknya Nafisa susah bun”
“Dah Nafis coba usahakan?”
“Belom”
“Kok bilang susah?”
“Sebenernya dah didiskusiin gitu sama pak Syauqi. Kata beliau bagus. Tapi setelah diskusi lagi sama temen-temen, kok kayaknya susah”, jawabku pesimis.
“Aiih, coba diusahakan lagi deh. Sesuatu kalau gak kita usahakan keras ya gak bakal berbuah yang bagus dong. Apapun hasilnya nanti, meski tak sesuai dengan yang kita inginkan, Allah pasti beri yang terbaik. Yang penting udah usaha. Bunda yakin anak bunda yang cantik ini pasti bisa”, jelas bunda dan kemudian segera memelukku.
Benar apa yang dikatakan bunda. Di malam itu juga aku segera menghubungi teman-temanku. Dengan bantuan skype aku berdiskusi dan membagi tugas dengan mereka. Walaupun aku sedang sakit, aku tetap berusaha untuk yang terbaik. Karena ini adalah kesempatan terakhir kami, kesempatan terakhirku. Malam itu Aku benar-benar berlari. Mengerahkan segala tenagaku. Ya, aku sedang berlari mengejar impian itu.
Setelah kami masuk sekolah, segera kami berdiskusi kembali dengan pak Syauqi. Seperti yang kuduga, setelah mendengar kabar dari selesainya laporan kami dia tersenyum yang bermakna, “Ini yang Bapak tunggu dari kalian”. Namun, ternyata kami masih melakukan banyak kesalahan dan perlu diperbaiki. Karena sudah deadline, kami bahkan terpaksa meminta izin untuk tidak mengikuti kelas untuk mengerjakan karya tulis ini. Pak Syauqi telah meminta izin pada setiap guru untuk kami. Ah, beliau memang selalu baik.
Akhirnya, setelah melewati beberapa revisi atau perubahan, dalam waktu 3 hari kami dapat menyelesaikan karya tulis ini. Kami segera mengumpulkannya ke pak Syauqi. Aku tahu karya tulis kami ini sederhana. Tapi kami optimis kami dapat lolos ke tahap selanjutnya. Aku terus berdoa.

***

Sudah 2 bulan sejak karya tulisku kami dikirim ke panitia lomba KIR. Kami belum mendengarkan kabar mengenai karya tulis kami ini. Berkali-kali kami berniat menanyakan kabar tersebut ke pak Syauqi, namun selalu saja kami urungkan niat itu. Kami sungkan untuk bertanya pada beliau. Aku pun mulai memikirkan hal yang tidak-tidak. Apakah ini bukan jalanku lagi? Apakah kesempatan terakhirku telah berakhir?
Hari-hariku di sekolah berjalan seperti biasanya. Tidak ada yang berubah. Aku berusaha untuk selalu tersenyum seolah tidak ada yang terjadi. Seperti biasa, aku tetap bersenda gurau dengan teman-temanku. Berbagi tawa, canda, dan ceria bersama. Walau kenyataannya, jauh di dalam hatiku muncul rasa gelisah dan pengharapan yang amat sangat besar. Hanya aku dan Allah yang tau.
Tok..tok..tok.. terdengar seorang murid mengetuk pintu kelasku, menghentikan bu Aisyah yang sedang menjelaskan pelajaran matematika. Orang itu adalah siswi dari kelas sebelah. Dia meminta izin masuk dan mendekati bu Aisyah, lalu memberitahukan sesuatu. Aku tidak tau apa yang mereka bicarakan namun aku bingung kenapa mereka melirik ke arahku. Tak lama setelah siswi itu pergi. Bu Aisyah pun memanggilku.
“Nafisa, Pak Syauqi menyuruh kamu datang ke ruang guru sekarang”, kata bu Aisyah.
“Ada apa ya kira-kira bu?”, tanyaku merasa penasaran.
“Ibu juga kurang begitu tahu. Coba segera saja kamu menghadap pak Syauqi, nampaknya penting”, jawab beliau.
“Oh iya kalau begitu bu, saya mohon izin”
“Tentu, silakan”, ucap bu Aisyah sambil tersenyum ramah.
Jantungku berdebar keras. Ada apa ya, tanyaku dalam hati. Sambil berjalan menuju kantor, aku mengecek BB-ku yang aku silent selama pelajaran. Ternyata ada beberapa pesan bbm yang masuk. Salah satunya adalah dari pak Syauqi. Ya, dari pak Syauqi! Pesan tersebut berbunyi:
Nafisa & teman2 tim mohon sgr mnuju ruang guru. Penting. Ad yg ingin bpk bcrakan.
Entah ini berita baik atau berita buruk. Perasaanku campur aduk. Segera aku membalikkan diri dan melangkah kembali lagi ke kelas bu Aisyah untuk memanggil Fai dan Rizky. Bersama mereka aku menuju ke kelas lain dimana sisa tim kami berada.
“Eh-eh, ngapain pak Syauqi manggil kita ya? Jangan-jangan.......” ucap Fai dengan mata terbelalak sambil menyeringai ke arahku.
“Jangan-jangan apa?” tanya Azki.
“Omg omg omg omg guysss!!! Kayaknya gue punya firasat baik dehh”, seru Fai gembira.
“Aamiin. Gue tau apa yang ada dipikiran loe” jawabku santai.
Setelah teman-teman timku lengkap, kami berjalan menuju ruang guru. Nampak di seluruh wajah temanku, termasuk diriku, tersirat suatu kecemasan dan pengharapan akan kabar baik. Kecuali Fai. Sepanjang koridor dia lompat sana-sini menari tak karuan sambil berseru, “Yuhuuu….yuhuuu….”. Membuat kita harus menahannya berkali-kali mengingat waktu pelajaran di kelas lain masih berlangsung.
Tibalah kami di depan pintu kantor guru. Jantungku berdegup kencang. Perasaan ini bercampur aduk. Dengan tangan gemetar aku mengetuk pintu.
“Silakan masuk,” ujar seorang guru dari dalam. Aku mengumpulkan keberanian untuk membuka pintu dan masuk ke dalam. Tampak olehku Pak Syauqi, Bu Widi, dan bu Heny sedang duduk di sofa panjang di ruang tengah. Pak Syauqi memberi isyarat pada kami dengan lambaian tangan untuk datang mendekati beliau. Kutengok teman-temanku, wajah mereka masih cemas kecuali wajah Fai yang merah menggelembung, tak tahan untuk meluapkan kegembiraannya. Dasar Fai, pak Syauqi saja belum bilang apa-apa. Namun, dengan melihat lucunya wajah Fai, hatiku tampak lebih lega dan rela untuk mendengarkan apapun yang akan diberitakan pak Syauqi.
“Jadi begini, tadi ada surat datang dari diknas….”
“Apa itu Pak! Apa itu Pak!” seru Fai secara spontan memotong perkataan pak Syauqi. Aku mencubit perutnya. Pak Syauqi hanya tersenyum, juga teman-teman yang lain.
“Dalam surat tersebut tertulis bahwa karya tulis kalian lolos ke tahap kedua,” lanjut pak Syauqi.
“Yeessss!!!!!” teriak Fai sambil meninjukan tangannya ke udara.
“Ya, Bapak ucapkan selamat pada kalian. Lomba tahap kedua akan berlangsung hari Kamis minggu ini di Jakarta Selatan. Di tahap ini kalian harus mempresentasikan karya tulis itu didepan juri. Jadi, bapak sarankan kalian agar segera mempersiapkan power point, miniatur, dan segala properti lain untuk mempermudah presentasi kalian. Jika ada masalah kalian bisa menemui bapak”, jelas beliau.
“Siap Pak!!!” ujar kami serempak. Segera kami berterima kasih dan mencium tangan pak Syauqi dan dua guru lainnya.
Di perjalanan kembali ke kelas, aku tak memperdulikan Fai yang sedang berjingkrak-jingkrak tak karuan gembiranya. Aku diam merenung. Meski baru lolos ke tahap kedua aku sangat bersyukur. Alhamdulillah, ucapku dalam hati sambil memejamkan mata. Meski aku tau masih banyak rintangan yang akan menghadang di depan. Tapi aku lega. Setidaknya untuk sekarang.
Lomba akan diadakan hari Kamis, artinya dua hari lagi dari sekarang. Waktu yang sangat singkat, bukan? Kami masih harus mengerjakan power point dan miniatur untuk lomba. Apakah kami dapat melakukannya dalam waktu yang singkat? Pertanyaan itu terus terngiang dalam benakku. Kami segera membagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok pembuat presentasi yang terdiri dari aku dan Azki, serta pembuat miniatur Acha, Fai, dan Rizky. Kami pun memulai pekerjaan masing-masing sesuai dengan tugas kami. Lagi-lagi rumah Rizky menjadi markas kita. Hari itu kami mengerjakannya hingga larut. Bundaku menelpon berkali-kali karena khawatir.
Kami terus berusaha melengkapi karya ilmiah kami hingga sehari sebelum lomba. Setelah persiapan kami selesai, kami melakukan rehearsal atau latihan terakhir kali sebelum lomba. Bu Fatimah, guru Bahasa Indonesia kami pun turut membantu dengan mengoreksi cara bicara dan bahasa kami dalam presentasi. Oh ya, yang menjadi pembicara utama dalam karya ilmiah ini adalah aku. Aku bergumam dalam hatiku aku pasti bisa!

***

Kamis, 31 Oktober 2013, hari ini matahari tampak lebih cerah dari biasanya. Tak ada mendung. Aku dan teman-teman se-timku berjalan dengan pasti menuju tempat lomba. Kami tidak peduli siapa saingan kami. Kami hanya memikirkan untuk melakukan yang terbaik.
Jam tanganku menunjukkan pukul 08.45, menandakan bahwa 15 menit lagi perlombaan akan segera dimulai. Terdapat 15 kelompok dalam 1 bidang mata pelajaran. Kami berada di bidang IPS. Panitia perlombaan menyuruh perwakilan masing-masing dari setiap kelompok untuk mengambil nomor urut perlombaan. Aku pun mengambil undian mewakili kelompok kami.
Kertas undian kami pun dibuka. Ternyata kami mendapat giliran ke-6. Kami bersyukur karena kami masih memiliki banyak waktu untuk berlatih kembali dan memahami presentasi kami. Tak lupa kami tak henti-hentinya memanjatkan doa kepada-Nya.
Waktu menunjukkan pukul 12. Sekarang sudah giliran ke-5. Setelah ini adalah giliran kami. Kami merasa sedikit gugup tapi kami berusaha untuk tenang dan percaya diri. Setelah menunggu sekian lama, seorang juri pun keluar dari ruang lomba. Beliau berkata bahwa lomba akan dilanjutkan setelah makan siang atau jam 1. Semakin tak tahan aku dibuat menunggu.
Pukul 13.00, akhirnya salah seorang panitia memanggil kelompok kami dengan pengeras suara. Kami serempak menarik nafas panjang dan melangkah menuju ruang penjurian. Setelah memasuki ruangan, aku melihat ada 3 juri yang aku dengar berasal dari LIPI. Aku berusaha membuang perasaan gugup yang menjangkiti diriku ini. Setelah mempersiapkan segala hal, aku maju ke depan siap untuk presentasi di hadapan mereka. Ya Allah, bantulah diriku.

***

“Nafisa..Nafisa..pulang yuk. Kok ngelamun aja nih?”, ujar seseorang menghentikan lamunanku. Aku menoleh dan ternyata itu suara Azkiya. Lagi-lagi aku sedang memandangi rak piala yang terpajang di dekat pintu masuk SMPku. Dari sejak sekolah usai tadi aku terus tersenyum sambil melihat ke sebuah piala yang berada di rak tersebut. Piala yang dulunya adalah sebuah impian, namun kini telah ada dihapanku. Rasa syukur kepada-Nya tak henti-hentinya aku ucapkan hingga hari ini, dimana sebentar lagi aku akan meninggalkan SMPku yang tercinta itu. Sebuah piala besar yang meninggalkan sebuah kenangan indah. Piala itu bertuliskan:

JUARA I LOMBA KARYA TULIS
Tingkat SMP Se-Jakarta
“Auto Trashbin”
LIPI, 31 Oktober 2013


Read More......

Rabu, 08 Januari 2014

The Final Exams Week

Hehehe...#truestory
Seorang pelajar di suatu intansi pendidikan formal, pasti mengalami yang namanya ujian, bukan? Berarti kebanyakan umat manusia pernah merasakan kondisi dimana ia berada dalam masa-masa ujian? Aku penasaran kawan, apa sih yang kalian rasakan? Takutkah? Gugupkah? Cemaskah? atau sebaliknya? yah, memang yang diharapkan dalam ujian adalah lulus dari ujian tersebut. Tak puas hanya lulus saja, nilai yang sesuai dengan keinginan pun harus dikantongi. Apakah kau juga berpikir sepertiku? Jika tidak, sudahkah kawan merealisasikan pemikiran hebat tersebut? Jika sudah aku ucapkan selamat bagi kalian.

Sebagian orang tahu mungkin dari buku atau motivator-motivator ulung bahwa nilai akhir bukanlah hal yang terpenting. Yang terpenting adalah kepuasan setelah berusaha keras. Seharusnya apapun hasilnya itulah yang harus kita syukuri dan usahakan lagi jika masih ada kekurangan. Yah, seharusnya penitikberatannya ada pada usaha kita. Tapi praktiknya, selalu ada pemikiran sesat yang sering membuat kita hanya mementingkan hasil akhir. Apakah kawan juga merasa demikian?

Aku sering merasakannya, aku tahu usaha itu penting, namun setelah melihat hasil-hasil ujian tengah semester lalu, aku merasa kurang puas dengan nilai itu. Menyesal akan jawaban yang kutulis, sedangkan usahaku sendiri dalam mempersiapkannya aku lupakan. Menyedihkan bukan? Seharusnya aku tetap tersenyum dan berusaha lagi untuk ujian-ujian berikutnya. Setiap pelajar pasti pernah melakukan kesalahan. Mengharap nilai sempurna terus sampai akhir adalah hal yang amat susah namun ada orang genius yang bisa. Mereka adalah pengecualian. Jika manusia biasa adalah Homo sapiens, mereka seharusnya digolongkan pada spesies baru manusia langka. Banyak faktor yang menentukan. Tak hanya dari pribadi namun juga faktor luar, seperti kondisi sekitar, guru/dosen, dsb. Benar bukan?

Daripada menyesali nilai yang sudah keluar, lebih baik kita merenungkan kembali apa yang kurang dari usaha kita. Dari situ kita dapat mengambil banyak hal untuk perbaikan kedepan. Sungguh beruntung orang yang tangguh, yaitu orang yang mampu bangkit setelah mengalami kegagalan, dengan beberapa perbaikan baru tentunya.

Di paragraf terakhir ini, aku hanya ingin mengucapkan selamat berjuang bagi teman-teman yang sedang menempuh ujian akhir. Bagi yang telah usai, selamat menunggu dan bertawakkalah kepada-Nya. Yang terbaik adalah pilihan-Nya, bukan? Dan yang mungkin telah liburan, semoga menemukan kesibukan yang bermanfaat di masa liburan. Bagi yang masih galau memikirkan si doi, segeralah menikah. :P

~Salam hangat di pagi hari dari bumi Usmani~


Read More......

Yang Banyak Terlewatkan...

Sudah lama sekali aku tidak menulis. Kalian bisa melihat sendiri dari tanggal postingan terakhirku dimuat. Isinya pun hanya memberitahukan bahwa aku sengaja berhenti menulis dengan alasan memperbaiki hati. Lalu apakah hatiku sekarang sudah baik? Atau minimal lebih baik daripada sebelumnya? Entah, aku sendiri bingung. Apa yang bisa menjadi ukuran telah baik atau tidaknya hatiku? Dengan berpikir demikian, aku sadar sendiri bahwa belum ada perubahan yang signifikan dalam diriku. Masih seperti dulu.

Apakah kalian berpikir waktu berjalan cepat? Hampir semua orang merasakan demikian. Sudah tahun 1435 hijriah dan 2014 untuk kalender masehi. Mengingat bahwa malam sebelum tahun baru masehi yang lalu, aku yakin seyakin-yakinnya hampir di seluruh negri merayakannya, mesti tak semua. Jika tahun hijriah dalam islam disyariatkan untuk dirayakan pun, orang-orang yang benar paham agama ini bukan merasa suka cita, namun sebaliknya merayakan dengan haru biru. Betapa banyak waktu yang terlalaikan. Namun. mengingat ajaran islam yang menganjurkan umatnya selalu muhasabah diri, tak perlu pula diadakan perayaan tersebut. Benar bukan?

Aku salah satu diantara jutaan orang yang pasti menyesal telah meninggalkan banyak hal. Coba kita renungkan lagi, apa yang telah kita tinggalkan dan kita menyesal telah meninggalkannya?

(Aku yakin yang berakal sehat pasti pernah menyesal. Maka ceritaku ini berlaku untuk kalian. Bagi yang tak terlalu peduli dengan kehidupannya, terserah kalian aku tak memaksa. Aku hanya ingin membuat diriku merenung lewat tulisan ini. Alangkah senangnya, jika kalian pun merenung bersamaku. Menemaniku)
Hal-hal seperti waktu-waktu luang, waktu-waktu sehat, waktu masih bisa bersama dengan keluarga, sahabat-sahabat, dan orang-orang yang kita cintai misalnya. Dari sanapun kita bisa menyesali betapa banyak hal yang tidak kita lakukan terhadap mereka. Mungkin rasa sesal tersebut akan datang disaat tertentu. Seorang mahasiswa menyesal tak bisa mengerjakan ujian akhirnya dengan maksimal, kemudian dia akan menyesal betapa banyak sebenarnya waktu yang bisa dipakai untuk mempersiapkan diri. Seorang yang sedang sakit, struk misalnya, dan terbaring di rumah sakit, menyesal tak bisa melakukan hal-hal yang dia inginkan. Buang air pun susah. Tersiksa. Seorang yang telah merantau jauh menyesal diperantauannya saat mengingat kembali betapa dia sering membuat orang tuanya sedih, membuat saudara-saudaranya kesal, dan banyak momen-momen istimewa bersama keluarga yang pada saat itu dia tak terlalu peduli, tak berhasrat untuk menikmati, pada saat berkumpul bersama misalnya. Yang dipedulikan saat itu adalah urusannya sendiri. Seorang yang bersahabat betapa menyesali persahabatan yang telah lama terbangun runtuh karena hal sepele, atau tak memanfaatkan kesempatan untuk berteman karena keegoisannya sendiri. Aku yakin setiap orang punya cerita.

Itulah yang aku alami sekarang, kawan. Namun jika aku tak berbuat apapun, penyesalan ini akan bertambah, berkembang biak. Jadi, aku tak ingin berpanjang lebar dalam postingan pertama setelah lama memalingkan muka dari blog ini. Entahlah apa yang akan kuisi nanti, kuharap bisa bermanfaat terutama untuk kalian, kawan. Betapa indah berbagi, bukan? Aku sebenarnya punya banyak hal yang ingin kuceritakan kepada kalian. Tak jadi kuungkapkan karena takut kalian tertawakan, kalian abaikan, kalian pandang aneh, kalian pandang aku tukang pamer, juga karena faktor dalam diri seperti rasa malas, dsb. Ah, aku terlalu banyak berprasangka buruk kepada kalian, kawan. Maafkan aku. Sebaiknya aku perbaiki niatku untuk menulis. Seharusnya hanya untuk berbagi ilmu, ya berbagi. Dengan ini kita bisa saling mengingatkan. Agar diantara kita tak ada yang penyesalan setelah jiwa ini terpisah dari raga. Yah, waktu dimana kita berpisah dari dunia fana dan berjumpa dengan-Nya. Semoga kita tak menyesal. Aamiin.

~Salam dari ranah perantauan di bumi Usmani~

Read More......

Rabu, 05 Juni 2013

Sabar dan Sholat

Keburukan jika dibalas dengan keburukan, ibarat api yang diguyur bensin. Masalah akan tambah besar, benar begitu bukan? Kadang orang disekitar kita berbuat dzalim kepada diri ini dan tentu terlukalah hati . Kedzaliman mereka bisa berupa perkataan maupun perbuatan. Yang pasti orang yang mendzalimi kita tersebut kebanyakan tak sadar telah menyakiti perasaan kita. Lalu pantaskah kita membalasnya dengan hal yang serupa? Yaitu dengan kedzaliman yang mirip? Bukankah kita punya hak untuk membalas kedzaliman tersebut?

Tapi, apakah jalan tersebut merupakan penyelesaian dari permasalahan di atas? Sungguh jika kita melihat kembali sejarah, Rasulullah selalu membalas keburukan dengan kebaikan disertai sifat sabar. Disaat beliau berdakwah, kaum musyrikin selalu mendzalimi. Namun, beliau tetap sabar dan justru mendoakan kebaikan atas mereka, karena mereka belum mengetahui.

Lhoh, kita kan bukan Rasulullah? Ya memang benar. Siapa pula yang mau meng-klaim dirinya Rasulullah kecuali dia benar-benar sesat? Bukankah Rasulullah ita akui sebagai suri teladan kita. Uswatun Khasanah bagi seluruh umat. Bukankah mencintai sunnahnya juga merupakan perintah dari Allah? So, seusai pengalamanku sendiri, membalas keburukan dengan keburukan itu tak enak. Tak nyaman di hati. Kedepannya juga bakal tak karuan. Justru akan menambah parah permasalahan yang ada. Sudahlah hidup damai-damai saja kenapa? Nikmat memang...

Hmm..yang namanya manusia selalu akan dirundung cobaan. Kadang kita berusaha memaafkan mereka, namun mereka tak merasa bersalah. Dan ini benar-benar menekan batin, bukan? Sabar dan sholat telah diperintahkan kepada kita sebagai solusi atau penolong dari segala permasalahan yang ada. Jika kita tahu apa yang dirasakan Rasulullah pada saat berdakwah di masa awal, sungguh permasalah kita ini tak ada apa-apanya. Hmm...semoga tak sekedar tulisan saja. Bismillah...

Read More......

Belajar Menulis...lagi dan lagi...

Di postingan sebelumnya aku begitu bertekad untuk mengisi kembali blog ini. Namun, selang beberapa waktu, semangat untuk menulis hilang lagi. Sempat ada keinginan dan ide-ide bagus untuk menulis, tapi sayang, semangat menulis lagi-lagi...meredup. Entah apa yang menyebabkan aku malas untuk menulis.

Padahal menurutku sendiri menulis itu menyenangkan. Bisa berbagi apapun dari kehidupan kita. Kita bisa membagi pengalaman dalam kehidupan ini, bantuan-bantuan, tips-tips, berita,saran, dsb kepada orang lain. Sudah banyak para penulis yang sukses menggugah jiwa dan raga orang lain untuk bisa bersemangat dalam menulis. Namun dalam catatan, yang dibagikan adalah ilmu dan hal yang bermanfaat. Dulu memang sempat kepikiran untuk menjadi penulis. Dan sekarang tentu saja masih kepikiran. :)

Okelah, buat apa memikirkan banyak-banyak. inilah itulah, pada akhirnya tak jalan-jalan juga. Menulis ya tinggal menulis. Buat apa dipikir susah-susah. Toh menulis bukan untuk lulus ujian atau serupanya.

Yah, entahlah, semangat ini akan terus menyala atau pudar. kini saatnya untuk berusaha. Berusaha untuk belajar menulis. Belajar agar terus semangat dalam membagi pengalaman. Dengan harapan sama-sama bisa memberi feedback yang baik. Sayangkan pemikiran cemerlang terbuang sia-sia.

Oke, oke cukup, semoga tulisan ini tak hanya menjadi sekedar tulisan. Namun bisa menjadi perealisasian. Bismillah.

Read More......

Kamis, 25 April 2013

Perbedaan...

Perbedaan...
Adalah suatu yang indah
Meski tak selamanya indah
Kadang menyakitkan
Kadang membingungkan

Perbedaan...
Adalah suatu yang bisa ditolerir
Dengan syarat tertentu
Selama itu benar dan hakiki
Tak menyimpang, tak menyesatkan

Perbedaan...
Dapat membangun persaudaraan
Dapat pula menciptakan peperangan
Karena mungkin salah satunya
Tak sesuai dengan jalan-Nya

Perbedaan..
Tak usah dipermasalahkan
Asalkan dirimu yakin
Berpegang pada dua cahaya abadi
Cahaya yang tak pernah redup

Perbedaan..
Pun dapat menimbulkan persatuan
Yaitu saling melengkapi
Menuju ke jalan kebenaran
Menuju jalan keindahan nan abadi

Read More......

Selasa, 23 April 2013

Terbangun

Dimana aku berada?
Tempat yang tak kukenali
Mengelilingi memandangi diriku
Redup, sangat redup
Aku takut...

Kuberusaha mengingat
Barangkali aku pernah disini
Namun yang ada, hanya redup
Sedikit sekali cahaya
Aku takut...

Berjalanlah diriku
Entah kemana aku menuju
Dalam keredupan, dalam kedinginan
Melangkah tanpa arah
Aku takut...

Seberkas cahaya muncul
Berada jauh diujung dariku
Dibagian dimana keredupan pudar
Menjadi terang mempesona
Indah, elok, menenangkan...

Berlari meski terasa berat
Bernafas walaupun tersengal
Memaksa badan yang lemah ini
Menuju ke arah datangnya cahaya
Indah, elok, menenangkan...

Siluet seorang pemuda nampak
Siapakah dia gerangan?
Kuberlari semakin kencang
Hanya menuju sumber cahaya
Indah, elok, menenangkan...

Semakin dekat kudengannya
Semakin tampak fisik rupanya
Aku merasa mengenalinya
Entah kapan, entah dimana
Aku yakin, aku mengenalinya

Kudengar salam darinya
Merdu, menenangkan
Seiring salam yang dia ucapkan,
cahaya semakin terang
Hangat dan mendamaikan ...

Terang...Aku pun Terbangun...

Read More......

Pelaut yang Lupa

Samudera biru yang tergelar
Membiru indah menyelimuti bumi
Berkemilau diterpa sang surya
Sungguh menandakan kebesaran Sang Pencipta

Nampak sebuah titik dari kejauhan
Siapakah gerangan?
Adalah seorang pelaut yang memeluk lutut
Pucat pasi, pakaian lusuh, kedinginan
Nampak kehancuran di perahunya
Menampakkan dahsyatnya Sang ombak
Menyisakan isak dari sang pelaut


Dari sisinya, tak nampak pulau terdekat
Masih cukup jauh harus berlayar
Namun, sudah tak ada daya lagi
Sang pelaut hanya diam,
Mungkin menanti ajal
Apakah dia lupa sesuatu?

Teringatlah sang pelaut
Apa yang telah terjadi padanya
Perjalanannya berawal dari kota kelahirannya
Ia ingin menuju pulau lain
Mencari kehidupan

Ditinggalkanlah ayah bundanya
Serta seluruh saudaranya
Meski mereka relakan kepergiannya
Nampak berat terasa dihati

Sang pelaut ingat
Ia hanya bermodal nekat
Tanpa persiapan matang,
Tanpa bekal, tanpa ilmu yang cukup

Ia pasrah dengan keadaan dirinya
Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya
Ia terombang-ambing di luasnya samudra
Apakah dia lupa sesuatu?

Read More......

Cukuplah Allah Bagi Kita

Bukankah Allah itu selalu ada
Siap menerima keluhan
Senang melihat tetesan air mata penyesalan
Selalu menunggu hamba-Nya,
Di pintu pertaubatan

Coba bayangkan diri kita,
Kehidupan kita di masa lampau
Mengulas kembali apa yang telah berlalu
Sebagai introspeksi untuk perbaikan

Allah selalu akan hadir disisimu
Menanggapi segala masalah
Tergantung diri ini, maukah kau mendekatinya?
Sungguh, cukuplah Allah sebagai penolong kita...

Read More......

Memulai Kembali

Menulis? Kata yang sudah lama kulupakan. Karena kulalui hari tanpa berdampingan dengan kata tersebut. Lantas mengapa aku telah lama tak berpapasan dengannya? Apakah karena lupa? Atau karena disibukkan dengan banyak aktifitas? Atau karena malas untuk melakukannya? Atau masa bodoh dan tak menganggap penting hal tersebut? Sungguh alasan-alasan diatas justru kurang dari yang sesungguhnya aku alami. Entahlah, mengapa selama ini aku kehilangan passion untuk menulis.

Orang tuaku seringkali mendorong dan men-support diriku agar aku giat menulis lagi seperti dulu. Karena menulis itu memiliki banyak manfaat kata beliau. Yang pertama, momen-momen penting dalam kehidupan kita dapat kita abadikan dalam bentuk tulisan sehingga dapat dikenang kembali. Yang kedua, kita bisa jadikan sebagai bahan untuk merenungi diri. Belajar dari yang telah lalu, sebagai bekal melalui kehidupan di masa depan. Yang ketiga, tulisan-tulisan ini bisa kita share melalui blog atau website, sehingga diharapkan menjadi bahan renungan pula bagi orang lain. Yang keempat, saat menulis sebenarnya kita merangsang otak kita terutama bagian linguistik. Jika menulis dilakukan terus-menerus hal tersebut akan melatih kita dalam penyusunan bahasa. Selama menulis kita pun, secara sadar atau tidak, juga melatih kemampuan lain seperti berbicara, membaca, dan segala aspek yang berhubungan dengan bahasa. Selain hal diatas, tentu masih banyak manfaat dari membaca yang akan kalian temui jika kalian melakukannya sendiri.

Segala kegiatan harus disertai dengan niat atau tujuan yang jelas dan baik. Jika tidak, ada beberapa kemungkinan yang bisa terjadi. Tanpanya, kita takkan pernah semangat untuk memulai kegiatan tersebut. Atau kalau kita lakukan pun dalam keadaan malas dan terpaksa. Kegiatan tersebut akan menjadi sia-sia. Diapun tak memperoleh manfaat darinya dan justru membuang waktunya saja. Jika niatnya tak baik, takkan bernilai berkah. Sebaliknya akan mengundang musibah. Orang lain pun seringkali terkena getahnya.

So, today and later-InsyaAllah- Aku akan terus mencoba untuk menulis (baca=mengetik) dan membagi-baginya dengan kalian, para saudara/i yang dirahmati Allah. Bukan bertujuan untuk menggurui, namun belajar bersama, mengingatkan dalam kebaikan, menasehati dalam kesabaran. Bismillah.

Read More......

Rabu, 05 September 2012

Washing, Trial and Error

Segalanya akan mudah jika kau terbiasa melakukannya. Mencuci, bukankah hal itu bisa dilakukan semua orang? Mudah bukan? Namun bagaimana jika kau berada di negara lain dan disediakan mesin cuci. Tombol-tombol untuk mengoperasikannya menggunakan bahasa asing yang kau tak pahami. Ingin bertanya namun kau belum bisa bahasa mereka. Hayo, bagaimana? Ada yang bisa kasih solusi? Jawaban terbaik mungkin adalah nekat! Trial and Error! Itulah yang aku alami di sini.

Detergent seharga 1,75 Lira sudah kubeli. 1,75 x 5000= 8,750 rupiah. Ukurannya lumayan besar. Dan karena itu termurah, maka aku beli. Penjualnya bilang, entah benar atau tidak, kalau detergent yang kubeli ini hanya untuk mencuci dengan tangan. Sedangkan yang menggunakan mesin cuci ada tersendiri. Dan harganya lebih mahal yaitu 6,75 lira. Ukurannya 1,5 kg. “Buat apa aku beli sebanyak itu?”, pikirku. Sebenarnya yang menjadi masalah nanti adalah aku takut mubazir. Tempat tinggalku masih sementara. Belum tentu ada mesin cuci di rumah baruku nanti. Jadi kuputuskan beli yang paling murah. Dan berniat mencuci sendiri. selama ini aku baru tahu jika sabun detergent untuk mencuci dengan tangan berbeda dengan mencuci dengan mesin.

Sesampainya di asrama, aku mengambil ember di dekat mesin cuci yang disediakan. Ah, padahal enak sekali jika bisa menggunakannya. Kubawa ke kamar mandi di dalam kamarku. Dan segera mencuci secara manual. Dengan mengeluarkan tenaga penuh 1000 horsepower aku mulai mencuci. Oh ya, sekarang sudah sore, lalu bagaimana cucian ini bisa kering? Lagian aku juga belum tahu dimana tempat menjemur pakaiannya. Mana udara disini dingin lagi. Waduh. Kemudian terbesit ide cemerlang. Menggunakan mesin pengering di mesin cuci. Dan setelah kulakukan, kusadari itu bukan ide yang cemerlang.

Aku menenteng ember ke lantai 0 menggunakan lift. Disanalah ada mesin cuci. Berharap tak ada yang melihat. Malu aku. Ditemani Talgat, temanku dari Kyrgyztan aku mengoperasikan mesin cuci. Talgat bertugas menjadi penerjemahku, karena tombol pengoperasinya menggunakan bahasa Turki. Cucianku tadi kumasukkan ke dalam mesin cuci. Aku hanya butuh pengeringnya. Kemudian, si Talgat memencet sana-sini. Tampaknya dia juga bingung mengoperasikannya. Dan tiba-tiba saja kudengar, “Cuuurrrrr...”. Air mengalir di dalam mesin cuci dan mesin cucinya bekerja! Bekerja mencuci lagi pakaian yang telah kucuci susah payah. Dan tanpa sabun detergent! Aarrgghhhh.....
Kucoba untuk mematikannya berkali-kali. Sudah mati namun tak bisa dibuka. Pakaianku mulai luntur. Celana jeans yang kumasukkan tampaknya meracuni pakaian lain hingga berwarna biru. Adduuhhh. Gawat...gawat... Aku panik. Bisa-bisa pakaianku rusak. Kusuruh Talgat mencari siapa saja untuk membantu kita. Nyawa pakaianku sudah diambang batas.

Akhirnya ada seseorang yang datang. Menjelaskan jika mesin cuci ini akan otomatis terbuka jika proses mencucinya sudah selesai. Kira-kira dua jam. Dan artinya, usaha mencuciku tadi sia-sia. Miris rasanya. Kata Talgat juga, mesin pengeringnya ada di ruangan lain. Kacau semuanya deh. Kupikir satu mesin bisa dibuat dua fungsi, mencuci dan mengeringkan. Betapa jeniusnya diriku.
Sehabis sholat isya, aku mengecek kembali cucianku. Alhamdulillah sudah selesai dan alhamdulillah juga sekarang pakaian-pakaianku memiliki warna baru, yaitu biru. Segera aku bawa ke ruang pengering. Ada sebuah alat di sana. Kali ini aku takkan salah. Kuru berarti kering. Ada pilihan macam-macam. Dan kupilih Ekstra Kuru!!! “Jeeengggiiiiiddddd....wwoooshshh...wwooossshhhh” mesin pun bekerja. Bismillah. Semoga sukses!

Lama juga aku menunggu. Sudah hampir jam 11, namun belum juga usai. Ah, asrama sudah sepi. Talgat dan rasyid sudah tidur. Yang jadi teman bcaraku adalah sahabatku di What’s app dan BB. BB ini juga aku pinjem punya rasyid karena aku belum sempat registrasi dan beli kartu. Lama sekali rasanya. Udara bertambah dingin. Mungkin 15 derajatan ada. Sekujur tubuhku gemetar. Lalu aku memikirkan lagi, setelah dicuci dan dikeringkan berarti harus disetrika. Dan itu masalah baruku. Ah biarlah, tak perlu di setrika juga. Masak mau beli? Tunggu pindah rumah aja deh.

Alhamdulillah, pakaiannya sudah kering dan hangat. Super Kuru emang the best! Peduli amat dengan pilihan-pilihan lain yang tidak aku mengerti apa maksudnya. Lain kali akan kulakukan hal yang sama.

Yeah itulah cara mencuci Trial and Error di negeri orang. Apapun yang ingin kau lakukan contohnya seperti mencuci tadi, jangan pernah takut untuk mencoba. Meskipun gagal di percobaan pertama, usahakan untuk tidak mengulangi di percobaan kedua, ketiga, dan seterusnya. Keep trying!

“Hidup tanpa berani mencoba bagaikan burung yang enggan pergi dari sarangnya. Beranikan diri untuk mencoba, dan terbang tinggi ke angkasa, meraih asa”

Read More......

Jumat, 17 Agustus 2012

Salam Rindu Untukmu

Setiap pertemuan, pasti ada perpisahan. Takkan pernah sebuah pertemuan hadir tanpa disertai dengan perpisahan dibagian akhirnya. Kebanyakan perpisahan menimbulkan haru dan sedih yang mendalam. Apalagi jika kita berpisah dengan orang atau sesuatu hal yang amat kita cintai.

Malam ini adalah malam terakhir bulan ramadhan. Esok adalah puasa terakhir untuk ramadhan kali ini. Dan bagi kaum muslimin yang amat benar mencintai bulan ramadhan, akan terasa benar betapa sedihnya perpisahan kali ini. Tidur malam ini akan terasa cemas dan menggalaukan karena akan berpisah dengan sesuatu yang amat dicintainya. Harapan untuk berjumpa dengannya lagi berkali-kali dilantunkan dalam kemasan yang indah agar Sang Maha Berkehendak memberi kesempatan untuk bertemu dengannya lagi.

Tamu besar ini memang telah ditunggu berjuta kaum muslimin dan muslimat di seluruh belahan dunia. Entah menunggu dalam arti karena rindu ataupun hanya sekedar ungkapan. Tamu inilah yang telah menghidupkan kembali jiwa masjid yang lama terabaikan. Menggerakkan berjuta kaum muslimin pergi memenuhi masjid. Alunan indah ayat suci bergema di setiap sudut kota. Mulai dari kalangan anak kecil hingga dewasa, berkumpul di masjid untuk bertadarrus dan mentaddaburi Al-Qur'an. Dari masjid ke masjid, ceramah-ceramah disampaikan lebih semangat dan hampir setiap hari bergelora. Adzan magrib menjadi momen special bagi seluruh umat membuat berjuta hati gemas menunggu. Belum lagi kebersamaan bersama keluarga yang mungkin amat jarang pada bulan-bulan lain. Mempererat tali silaturahmi yang agak renggang. Serta banyak lagi keberkahan dan kenikmatan yang diberikan Sang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Ah, sedih juga ya, sedih karena penyesalan. Tak bisa manfaatkan secara maksimal kehadiran tamu besar yang sebentar lagi akan pergi ini. Untuk menimba banyak ilmu memperoleh perubahan yang lebih baik. Bagaimana dengan kalian sobatku? Semoga kalian tidak menyesal seperti diriku ini. Berhasil menjamu dengan baik tamu besar tersebut.

Malam ini aku benar-benar lelah. Mulai kemarin, keluarga dari berbagai penjuru daerah datang ke rumahku. Dan perlu persiapan untuk menyambut mereka. Merapikan rumah agar tampak indah dimata dan berkesan di hati. Belum lagi, adik-adik sepupu yang sering merajuk tanpa henti meminta diajak bermain. Tapi aku bahagia. Tahun ini aku bisa berkumpul bersama lagi. Bersama bunda, ayah, adik, nenek, paman dan bibi serta para sepupu dan keponakanku yang mungil. Alhamdulillah, engkau masih memberi hamba kesempatan berjumpa dengan mereka tahun ini. Di tempat yang sama meski dengan suasana yang agak berbeda.

Tahun depan entah aku bisa bertemu dengan bulan Ramadhan atau tidak. Aku berdoa agar dapat berjumpa lagi dengannya. Meningkatkan lagi iman ini. Membersihkan lagi jiwa ini. Mengobati segala penyakit hati. Memperoleh kemenangan yang hakiki.

Tahun depan,jikalaupun aku dipertemukan-Nya kembali dengan bulan Ramadhan, entah aku bisa berkumpul dengan keluarga tercinta ini di tanah air atau tidak. Tak hanya keluarga, namun aku juga berharap bertemu dengan orang yang kucintai. Teman-teman dan guru-guru. Karena mungkin lebaran tahun depan aku berada di tempat yang berbeda, di negara seberang sana. Entah OPSI apakah yang bisa kupilih nanti.

Oke sobatku, nampaknya mataku sudah lelah benar. Malam ini malam terakhir dengannya..ahh. Semoga aku bisa tidur dengan nyenyak. Berharap bermimpi indah...

Salam rindu untukmu Bulan Suci Ramadhan...



Read More......

Indonesia, Cinta ,dan Kemerdekaan

Seperti biasa, pagi menyambut semua insan dengan senyuman. Cerah menyenangkan. Menghilangkan rasa sedih dan galau di hati. Ditambah lagi suara merdu sang sinden pohon, yang menambah kedamaian dalam kalbu. Sudah sewajarnya tiap insan yang diberikan kenikmatan pagi ini untuk bersyukur kepada-Nya, Sang Pencipta pagi. Alhamdulillah.

Tujuh belas agustus, 67 tahun yang lalu, menjadi saksi sejarah atas kemerdekaan Indonesia. Atas jerih payah perjuangan para pahlawan hingga kita bisa menikmati pagi-pagi ini dengan damai dan tenang. Ya, bersyukurlah...

Di teras rumah, aku menikmati pagi. Ah, tiap pagi memang indah. Rugi sekali bagi mereka yang masih lengket dengan kasurnya, menikmati pagi dalam mimpi yang sesungguhnya semu. Tak seperti biasanya, telah tampak kesibukan orang-orang pemda dan beberapa anak sekolah untuk menyiapkan acara, menyambut kemerdekaan. Apalagi kalau bukan Upacara Bendera. Ah, jujur saja aku tak terlalu suka jika disuruh ikut upacara. Dan aku bersyukur sudah tak menjadi anak sekolahan yang sering dipaksa guru untuk ikut upacara. Apalagi di lapangan kota.Tak ada terburu-buru memakai baju seragam. Tak ada kebingungan mencari dasi atau topi. Ah, bebas menikmati pagi.

Sayup-sayup suara peleton yang sedang gladi resik terdengar. Lapangan kecamatan tak jauh dari rumahku. 50 langkah saja mungkin terlalu banyak untuk kesana. Cukup dekat. Sebelumnya mereka telah berlatih. Yel-yel mereka saat gerak jalan menuju lapangan, sering terdengar begitu semangat. Semoga mereka sukses menunaikan tugas mereka. Memperingati kemerdekaan umat Indonesia. Kemerdekaan? Memang kita sudah merdeka?

Tak perlu lah kita membicarakan aib negara sendiri. Sudah banyak dibahas oleh para pakarnya. Ya, seperti yang kita tahu, meski negara kita di atas kertas memang sudah merdeka, namun pada kenyataannya jauh dari cita-cita kemerdekaan. Apa saja sih cita-cita tersebut? Coba baca lagi pembukaan UUD 1945. Di dalamnya tersurat dan tersirat beragam euforia kemerdekaan serta tujuan nasional. Baca dan renungi lagi. Sudahkah kita sebagai bangsa Indonesia mencapainya?

’Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdasakan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada :Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan’
(Alenia ke-4 Pembukaan UUD 1945)


Meski banyak persoalan melanda aku tetap cinta negaraku. Lebih karena iba dan rasa syukur, bukan karena bangga. Untuk bangga itu belum. Mengapa demikian? Yah, coba kalian renungkan sendiri-sendiri atas Indonesia ini. Rasa cinta dalam bentuk apakah kalian terhadap negara ini? Bangga, senang, bahagia ato justru karena iba, kasihan, rasa syukur karena lahir di negara ini, atau jangan-jangan hanya berpikir, "Yah, apa boleh buat, gua lahir di sini..". Apapun jenis cinta kalian, mari kita bersama-sama sebagai pemuda dan pemudi berjuang membangun negara ini. Agar suatu saat nanti kita mencintai negara ini karena perasaan bangga. Bangga memiliki negara ini. Bangga telah lahir di negara ini. Tak perlu muluk-muluk dulu, cukup perbaiki diri pribadi masing-masing. Dengan merubah kebiasaan, terutama tidur di pagi hari. Kasihan kan, sang pagi sudah berdandan elok namun kita abaikan dan menduakannya dengan alam mimpi.

Ah, ingin aku ketikkan kata "MERDEKA" dengan font tebal warna merah serta tanda "!" tiga kali, namun aku urungkan niat itu. Ya suatu saat nanti, aku berdoa agar Indonesia benar-benar MERDEKA yang SESUNGGUHNYA!!! Aamiin...

Read More......

Kamis, 16 Agustus 2012

Berdoa, Yuuk~ :D

Doa adalah fasilitas ibadah yang indah. Meskipun gratis yang namanya ibadah pasti ada aturan atau adabnya. Islam mengajarkan kita untuk menjadi manusia beradab, bukan? So, sobat blogger yang dirahmati Allah, atas masukan dari saudari ana, hadits dibawah ini bisa kita jadikan sebagai renungan. Melanjutkan postingan ana yang berjudul "Yuk Kita Berdoa"
Bismillah...

Hadits ke 10 dari hadits arba'in yang di tulis oleh Imam Nawawi
Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu dia berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya Allah ta’ala itu baik, tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang beriman sebagaimana dia memerintahkan para rasul-Nya dengan firmannya : Wahai Para Rasul makanlah yang baik-baik dan beramal shalihlah. Dan Dia berfirman : Wahai orang-orang yang beriman makanlah yang baik-baik dari apa yang Kami rizkikan kepada kalian. Kemudian beliau menyebutkan ada seseorang melakukan perjalan jauh dalam keadaan kumal dan berdebu. Dia memanjatkan kedua tangannya ke langit seraya berkata : Yaa Robbku, Ya Robbku, padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan kebutuhannya dipenuhi dari sesuatu yang haram, maka (jika begitu keadaannya) bagaimana doanya akan dikabulkan.(Riwayat Muslim).


Dalam hadits terdapat sebagian dari sebab-sebab dikabulkannya do’a :
1. Perjalanan jauh, bisa disamakan dengan orang yang berhijrah karena Allah dan kembalinya ke kampung halaman pula karena Allah. Namun dengan catatan hijrahnya dengan niat karena Allah.

Dari Amirul Mukminin Abi Hafs Umar bin Khattab Radhiyallahu 'Anhu: Aku mendengar Rasulullah Shallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang mndapatkan sesuai apa yang diniatkan, barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa hijrahnya karena dunia yang akan didapatkan atau wanita yang akan dinikahi maka hijrahnya sesuai dengan apa yang dia niatkan. (HR. Bukhari Muslim)


2. kondisi yang bersahaja dalam pakaian dan penampilan dalam keadaan kumal dan berdebu, menunjukkan betapa rendahnya ia dihadapan Allah, karena itulah fitrah manusia dihadapan Sang Pencipta-Nya ibarat sebutir debu.

Rasulullah SAW bersabda: yang artinya “Tiada berkurang harta karena sedekah, dan Allah tiada menambah pada seseorang yang memaafkan melainkan kemuliaan. Dan tiada seseorang yang bertawadhu’ kepada Allah, melainkan dimuliakan (mendapat ‘izzah) oleh Allah. (HR. Muslim).

3. mengangkat kedua tangan ke langit,
Dari Salman Al-Farisi Radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya Rabb kalian Maha Hidup lagi Maha Mulia, Dia malu dari hamba-Nya yang mengangkat kedua tangannya (meminta-Nya) dikembalikan dalam keadaan kosong tidak mendapat apa-apa". [Sunan Abu Daud, kitab Shalat bab Doa 2/78 No.1488, Sunan At-Tirmidzi, bab Doa 13/68. Musnad Ahmad 5/438. Dishahihkan Al-Albani, Shahih Sunan Abu Daud].

4. meratap dalam berdoa dan bersungguh-sungguh dalam berdoa.

Rasulullah bersabda, “Sungguh janganlah salah seorang dari kalian mengucapkan: ‘Ya Allah ampunilah aku jika Engkau menghendaki. Ya Allah rahmatilah aku jika Engkau menghendaki’. (Namun) hendaknya ia bersungguh-sungguh meminta, karena sesungguhnya Ia (Allah), tidak ada yang memaksa-Nya.”(HR. Bukhari)

5. mengkonsumsi makanan, minuman dan pakaian yang halal.

“Wahai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan; karena sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu" (Surat Al Baqarah : 168)

Hmm..semoga bisa menjadi renungan bagi sohibku sekalian.
Oh ya jika ingin mengetahui lebih lengkap click di sini. Hasil karya Majid bin Su'ud al-Usyan. Sudah diterjemahkan ke Indonesia. Sebenarnya banyak karya beliau. Googling aja deh. Semoga bermanfaat...

KEEP PRAYING!!!

Terutama kita doakan saudara/i kita yang sedang berjihad, memperjuangkan hak kehidupan mereka terutama di daerah Palestine, Pattani di Philipine, Rohingya di Myanmar, kaum Sunni di Syria...

Allah Ya Rahman. Allah Ya Rahim

Read More......

Rabu, 15 Agustus 2012

Yuk Kita Berdoa... :)

Yang namanya kehidupan itu penuh dengan berjuta tanda tanya. Pasti ada penyesalan atas masa lalu kita. Banyak rahasia di balik masa depan kita. Juga beragam OPSI kehidupan yang entah akan membawa kita kemana. Bersyukurlah kita sebagai kaum muslim yang telah Allah beri petunjuk dari Al Qur'an yang bisa kita gunakan sebagai penerang jalan kehidupan ini. Juga telah dicontohkan secara real oleh Rasulullah SAW. yang diabadikan para sahabt melalui kumpulan-kumpulan hadits. Dengan berpegang teguh pada kedua itu serta dengan pemahaman yang benar, Allah akan meridhai kita.

Setiap permasalahan pasti ada solusinya bukan? Dengan berusaha, pantang menyerah serta dengan diiringi doa insyaAllah akan diberi kemudahan oleh-Nya. Nah, ini dia, DOA. Yuk, kita saling bertukar pikiran mengenai fasilitas yang telah Allah berikan pada kita ini!

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al-A’râf [7]: 55-56)

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS Al-Baqarah [2]: 186)

Coba kita renungi firman Allah azza wa jalla tersebut. Dalam Al Qur'an kita diperintahkan untuk berdoa lho. Allah mempersilakan kita memohon apapun kepada-Nya, asalkan masih dalam batasan yang baik. Sungguh Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang ,bukan? Eit, tapi ada syaratnya, yaitu kita kudu beriman kepada-Nya dan selalu berada dalam kebenaran.

Namun, pernahkah kalian merasa, kita sudah berdoa, tapi tak kunjung dikabulkan-Nya. Eit, jangan suudzon dulu sama Allah. Ketika seorang hamba berdoa, ada tiga kemungkinan atas doanya tersebut yang disebutkan dalam hadits berikut:

“Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan do’anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do'a-do'a kalian.” (HR. Ahmad 3/18, dari Abu Sa'id; hasan)

Ingatlah janji Allah ini
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Al Mu'min: 60)

Sungguh Allah Maha Mengijabahi segala do'a. Apabila kita sudah berusaha dan berdoa namun mendapat hasil yang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, tetaplah khusnudzon pada-Nya. Ingatlah bahwa Allah Maha Mengetahui kebutuhan umatnya. Dan yang kita terima itu adalah yang terbaik dari-Nya, untuk kebaikan kita pastinya.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.” (QS. Al Baqarah: 216)

So, tetaplah semangat dalam berDOA my bro and sist! Karena segala do'a yang kita panjatkan pasti bermanfaat bagi diri kita. Kita saja yang kadang tidak menyadarinya. Pengennya instan (emang super bubur? Seduh..Sudah...hehe)

Oh, ya, ini ada beberapa kumpulan doa yang aku salin dari buku "Doa dan Wirid" karya Yazid bin Abdul Qadir Jawaz, penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi. Segala aspek tentang do'a dibahas disini dengan singkat, padat dan jelas. Bisa dicari di Gramed lhoo(dari tadi promosi ya..hehe..untuk kebaikan gak papa dong... :)) Aku hanya mengutip bagian do'a yang terdapat dalam Al-Qur'an. Doa-doanya para Nabi..
Cekidot..bismillah...
Kumpulan Do'a dalam Al-qur'an


"Hidup tanpa berdoa bagaikan hidupnya burung yang enggan menggunakan sayapnya untuk terbang" (Penulis, 2012) He..he.. :D

Berdoalah kapanpun, dimanapun, sedang apapun dan saat kondisi apapun... 


KEEP PRAYING!!!! :D

Read More......

Selasa, 14 Agustus 2012

Jama'ah Ferarri? Hadehh...

Indonesia ini kaya akan beragam warna. Mulai dari ragam rupa, bahasa, pakaian adat, rumah adat, makanan hingga kepercayaan. Berwarna-warni bagaikan pelangi. Aku takkan membahas semua macam keanekaragaman itu disini. Aku hanya ingin mengutarakan perenunganku atas beberapa pengalaman. Pengalamanku sholat di masjid yang berbeda-beda.

Jika sobat suka bepergian atau menjadi musafir, tentu masjid yang sobat gunakan untuk sholat pasti berbeda-beda. Ada juga guruku, waktu pelatihan OSN di UNDIP masa SMP dulu, pernah sholat di berbagai masjid hingga ke seluruh penjuru dunia. Masjid di beberapa negara Asia dan Eropa pernah beliau singgahi. Hebat, bukan? Karena beliau lah aku jadi berniat melanjutkan kuliah di luar negeri merasakan beragam masjid dengan beragam kebiasaannya. Nah, inilah yang akan aku renungkan. Masalah KEBIASAAN dalam tiap-tiap masjid.

Ada mesjid yang sering ngadain TPA sore-sore. Ada masjid yang suka sering banget ngadain majelis. Ada masjid yang suka ngadain pengajian bareng. Ada yang saat shubuh pake qunut, tapi ada juga yang nggak. Ada yang abis sholat doa berjamaah dan salam-salam sambil sholawat,tapi ada juga yang abis sholat pada khusuk doa sendiri-sendiri. Ada yang adzannya dua kali. Ada yang imamnya pake tongkat. Ada yang kalo mau teraweh apa witir pake niat bareng-bareng, kenceng-kenceng lagi. Ada yang qunut juga pas 10 malam terakhir di sholat witirnya. Ada yang teraweh 8 rakaat, 18 juga ada. Ada yang tenang dalam baca qur'annya, ada yang ngebut bak ferarri dikejer cheetah (Wow?). Dan lain sebagainya.

Ya memang begitu, hidup penuh dengan kenekaragaman. Prinsip orang hidup pun berbeda. Selama masih berpegang pada Al Qur'an dan Hadits, pastilah prinsip hidupnya diridhai Allah azza wa jalla.

Dari Katsir bin Abdillah, dari ayah nya dari kakeknya r.a, ia berkata sesungguhnya Rosululloh Sholallahu 'alaihi wa sallam , bersabda : Kutinggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang kamu tidak akan sesat apabila kamu berpegang teguh kepada keduaya, yaitu : Kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya". (HR. Malik dalam Al-Muwaththa’ juz 2)

Aku mulai yang perenunganku. :D

Ee..jujur aja ni (tak ada niat buruk ya)aku kurang sreg dengan masjid yang sholatnya bak ferarri. Baik bacaannya, gerakannya yang cepat membuat diriku jadi kurang khusyuk dalam sholat. Bukankah seharusnya kita meresapi makna dari ayat-ayat Al-Qur'an yang dibaca supaya mendapat kenikmatan dalam sholat?

“Dan al-Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya kepada manusia secara perlahan-lahan.” (Al Isra: 106)

“Dan bacalah al-Qur’an itu secara perlahan lahan.” (Al Muzzammil: 4)


Lalu, bagaimana kita bisa meresapi makna ayat-ayat Al-Qur'an jika dibacanya saja sekencang angin. Menurutku kurang baik jika imam bersikap demikian, ngebut dalam sholat entah mengejar waktu atau apa. Ya, aku tidak bermaksud menghakimi imam yang demikian, toh ilmuku masih cetek, secetek kolam ikan tetangga sebelah (he? siapa yang tau coba?). Aku hanya ingin mengajak, atas perenunganku ini, bagi sapa saja sobat blogwalker terutama kaum ikhwan yang jadi imam dalam sholat, agar tartil dalam membaca ayat Al-Qur'an. Selain enak di denger, para jamaah kan jadi khusyuk sholatnya. Apalagi kalo ayat yang dibaca itu pas bener artinya. Misalnya pas malam lailatul qodar gini ya pada salah satu rakaat bacanya Al Qadr, dan lain sebagainya.

Oh ya, gerakan sholat jamaah ferarri ini cepetnya minta ampun. Kadang aku baru mau rukuk, eh imamnya mau i'tidal. lagi mau i'tidal eh udah sujud aja. jadi ngos-ngosen deh. Kayak lagi senam aja (ada yang bilang push up). Adrenalin pun terpacu! Yah, bukankah seharusnya setiap gerakan kita nikmati ya? Agar hadir ketenangan dan kedamaian dalam hati.

Rasulullah bersabda, “Sejahat-jahat pencuri adalah orang yang mencuri dalam shalatnya”, para sahabat bertanya: “Bagaimana ia mencuri dalam shalatnya?” Kemudian Nabi menjawab: “(Ia) tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya” (HR. Imam Ahmad, 5 / 310)

Haduh, rasulullah aja menyebutkan demikian. Kalo imamnya ngebut demikian, bukankah kasian makmumnya? So, sekali lagi bagi sobat blogwalker terutama kaum ikhwan yang jadi imam dalam sholat, aku menganjurkan untuk tuma'ninah dalam sholat. Menyempurnakan tiap gerakannya. Pelan-pelan asal khusyuk. Tapi ya gak lama-lama, kasian kaum sepuh yang gak kuat berdiri. Yang penting tuma'ninah. Pada tahu artinya tuma'ninah khan? Kalo yang belajar fiqh pasti tau ini.

Thuma’ninah adalah diam beberapa saat setelah tenangnya anggota-anggota badan. Para Ulama memberi batasan minimal dengan lama waktu yang diperlukan seperti ketika membaca tasbih. (Lihat fiqhus sunnah, Sayyid Sabiq : 1/ 124)

Yang penting gerakan dan bacaannya kita resapi. Jika menimbulkan ketenangan dan kekhusyukan berarti kita dah tuma'ninah. :D

Ehem, kali ini masalah doa bareng setelah sholat usai. Jujur lagi ni(gak da niat memojokkan lho ya, hanya perenungan, jika salah mohon dibenarkan), aku lebih suka kalo setelah sholat mending pada doa sendiri-sendiri aja. Kenapa? Biar lebih khusyuk mengutarakan apa saja kehadirat Allah Yang Maha Penyayang. Menurutku tidak perlu berjamaah. Tiap orang kan punya keperluannya sendiri-sendiri. Ibaratnya kalo praktek ke dokter. Masing-masing pasien punya keluhan yang berbeda-beda, bukan? Dan sering deh selain bareng-bareng, kenceng-kenceng pula. Bukankah Allah Maha Mendengar?

”Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah (kuasa) memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan bahwasanya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS. Al Hajj. 61).

So, dengan suasana yang tenang, merenungi segala kesalahan pun lebih gampang, berdoa jadi lebih konsentrasi. Hati ini jadi adem. Seerrr..rasanya... Ya buat diriku, yang konsentrasinya gampang buyar, kalo masjid ngadain doa bareng keras-keras pake mik lagi, jadi gak khusyuk doanya. Mau mengutarakan penyesalan jadi gak tercurahkan semua. hadehh.. ya itu sih menurutku lho ya..

Yah, aku masih banyak belajar untuk menyempurnakan sholatku yang masih jauh dari kata sempurna. Masih sering kalo sholat pikirannya kemana-mana. Haduhh.. Maka dari itu sob, yuk kita sama-sama terus memperbaiki sholat kita. Agar ibadah sholat ini terasa nikmat, mantap bin ma'nyuueess... Hehe...

Kalo ada kesalahan itu pasti datangnya dari kekhilafanku dan jika terdapat kebenaran itu datangnya dari Allah SWT. Mohon maaf kalo ada yang keliru, kan sudah aku bilang "ilmuku masih cetek, secetek kolam ikan tetangga sebelah". So, mohon kritik, saran plus masukan dari sobat blogwalker yang dirahmati Allah SWT. sebagai perbaikan bagi diriku kedepannya...

Syukron jazakumullah khairan katsira...

Wallahu a’lam bish shawab...




Read More......

Senin, 13 Agustus 2012

Fa Ainallah? (Lalu, dimana Allah?)

Apa sih arti sebuah kejujuran? Bukankah jujur itu mengatakan apa adanya, tanpa ditambahi bumbu-bumbu penyedap lainnya? Bukankah jujur itu tidak menyembunyikan sesuatu pun kenyataan yang ada? Oh iya, jujur kan sifat Nabi, bukan? Hmmm..namun, apakah dalam praktik dalam keseharian ini, kita sudah menerapkan kejujuran?

"Hayoo, puasa lho...gak boleh bo'ong. Kalo bo'ong puasanya batal?"

Mungkin kalimat diatas sering dilontarkan sebagai gurauan kita kepada teman kita. Tapi bohong kan tidak membatalkan puasa, hanya merusak pahalanya. Yang jadi titik berat bukan disitu. Dari obrolan ringan itu pun kita tahu bahwa bohong itu tidak baik.

Susah gak sih menghadirkan sifat jujur dalam diri kita? Nah, waktu ulangan, dimana mensontek adalah budaya khas pelajar mulai dari kalangan SD sampe SMA, perkuliahan juga gak ya? Padahal, saat ujian itulah kejujuran kita diuji. Kalau dilihat dari sisi positifnya, selain membuat kita (walaupun terpaksa) belajar, ulangan melatih mentalitas kita terutama dalam kejujuran. Pasti yang belum siap hadapi ujian akan gemetar, panas dingin, meriang, perut mulas, mual-mual, bibir pecah-pecah (Elhoh?). Dan jalan pintas yang akan ditempuh adalah... Yap, benar! Mensontek! Hadehh, itulah awal dari bibit-bibit penyakit yang lebih ekstremmm,,,

Apakah itu??? Yaitu korupsi! Liat ntuh acara televisi. Sebagian wakil-wakil kita pada korupsi. Kerugiannya bukan ditanggung mereka saja namun kita, sebagai rakyat juga turut menanggungnya. Nah, lho..meski hukuman di dunia ringan, tapi mereka punya tanggun jawab yang besar di akhirat. Karena tidak jujur dan amanah dalam menjalankan tugasnya. Kalo sejak dini udah bermental koruptor, pantas saja bangsa ini tak maju-maju.

Coba kita renungi lagi kisah-kisah teladan zaman dulu. Yang tentunya banyak hikmah di dalamnya. Kisah ini diceritakan oleh ustadz yang ceramah habis sholat isya di masjid langgananku. Mari kita simak. Bismillah...

Abdullah bin Dinar meriwayatkan bahwa suatu hari dia berjalan bersama Amirul Mukminin Umar bin Khattab dari Madinah menuju Makkah. Suasana padang pasir itu sangat panas dan terik. Nah, di tengah perjalanan beliau bertemu dengan anak gembala. Lalu timbul dalam hati Khalifah Umar untuk menguji sejauh mana kejujuran dan keamanahan si anak gembala itu.

Ibnu Umar : “Hai anak gembala, juallah kepadaku seekor anak kambing saja dari ternakmu itu!”
Penggembala : “Aku hanya seorang budak, Tuan. Jika ingin membelinya, datanglah ke majikanku.”
Ibnu Umar :“Kambing itu amat banyak. Apakah majikanmu tahu jumlahnya? Apakah dia suka memeriksa dan menghitungnya?”
Penggembala :“Tidak, majikanku tidak tahu berapa ekor jumlah kambingnya. Dia tidak tahu berapa kambing yang mati dan berapa yang lahir. Dia tidak pernah memeriksa dan menghitungnya. Bahkan jika Tuan beli sepuluh ekor pun, majikanku tidak akan tahu.”
Ibnu Umar :“Lalu, kalau begitu juallah kambing itu padaku! Katakan saja nanti pada tuanmu, anak kambing itu dimakan serigala. Ini uangnya, terimalah! Ambillah saja, sekedar untuk membeli baju atau roti.”

Meski terus menerus Khalifah Umar membujuk dan memaksa, anak gembala tetap tidak terbujuk dan mengabaikan uang yang disodorkan oleh Umar. Anak gembala tersebut diam sejenak, ditatapnya wajah Amirul Mukminin, dengan raut muka yang serius lalu keluar dari bibirnya perkataan yang menggetarkan hati Khalifah Umar...

Penggembala : “Jika Tuan menyuruh saya berbohong, Fa ainallah? Fa ainallah? Fa ainallah?(Lalu di mana Allah?). Bukankah Allah Maha Melihat? Apakah Tuan tidak yakin bahwa Allah pasti mengetahui siapa yang berdusta?”

Kita tahu bahwa, Umar bin Khattab adalah seorang khalifah, seorang pemimpin. Dia adalah seorang pemimpin umat yang sangat berwibawa lagi ditakuti, dan tak pernah gentar menghadapi musuh. Akan tetapi, saat menghadapi anak gembala itu beliau gemetar, rasa takut menjalari seluruh tubuhnya, persendian-persendian tulangnya terasa lemah, kemudian beliau menangis. Menangis mendengar kalimat tauhid itu, yang mengingatkan pada keagungan Allah, dan tanggung jawabnya di hadapan-Nya kelak.

Lalu dibawanya anak gembala yang berstatus budak itu kepada tuannya, kemudian ditebusnya, dan beliau berkata, ''Dengan kalimat tersebut (Fa ainallah?) telah kumerdekakan kamu dari perbudakan itu dan dengan kalimat itu pula insya Allah kamu akan merdeka di akhirat kelak.'' Peristiwa di atas jelas merupakan cermin jiwa yang ihsan, terpuji, serta gambaran iman yang melahirkan sifat jujur dan amanah.

Bagaimana sobat blogwalker??? Hebat banget bukan si penggembala tadi? Itu hanya sekelumit kisah dari sekian banyak kisah yang mencontohkan kejujuran. Semoga kita bisa mengambil hikmah darinya. Yaitu terus menumbuhkan sifat kejujuran dan amanah dalam diri kita masing-masing. Karena tiap perbuatan kita kelak akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat kelak. Jadi, ada yang masih mau nyontek?? Hehe...

Allah selalu ada, dimana pun kita berada...

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas 'arsy. Dia Maha Mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya; apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kalian di mana saja kalian berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan. (al-Hadiid: 4)


Read More......

Minggu, 12 Agustus 2012

4 Hal Penghapus Pahala

Alhamdulillah, baru saja aku pulang dari sholat taraweh plus witir. Dan lagi-lagi ceramahnya disampaikan menarik oleh ustadz..siapa ya..hehe lupa. yang penting ceramah beliau membuatku diam termenung. Mengingat-ingat lagi diri. mencoba introspeksi dan bertaubat atas perbuatan yang telah kulakukan. Beliau memberikan ceramah mengenai empat hal yang dapat merusak bahkan menghapus pahala kita. Bukan hanya pahala puasa, pahala ibadah apa saja. Bayangkan saja, telah lama kita menghimpun pahala sebanyak-banyaknya namun hati kita masih terjangkit empat hal ini, sia-sia lah amal ibadah kita. Mari kita renungkan bersama empat penyakit hati yang amat berbahaya bagi umat muslim ini... Bismillah

1. Hasad
Hasad atau yang sering kita sebut dengki adalah tidak suka atas nikmat yang diberikan Allah kepada salah satu saudaranya dan berniat dan berusaha membuat saudaranya tersebut menjadi susah suatu saat nanti. Gampangannya, orang dengki itu senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang. Penyakit ini sering menjangkiti orang-orang dalam dunia perbisnisan, persaingan kerja, bahkan di kalangan ustadz. Orang dengki tidak mensyukuri apa yang telah Allah berikan padanya. Ia selalu merasa orang lain lah yang lebih beruntung dan merasa Allah tidak adil padanya.Hasad dapat menghapus amal ibadah kita lho. Rasulullah SAW bersabda, “Al-Hasad memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar”. Rugi banget khan. Hiiy..

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi Para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. an Nisa’: 32)

2. Gadhab
Rasulullah bersabda, "Laa Taghdhob Wa Lakal Jannah" (Janganlah kamu suka marah, maka bagimu surga). Mungkin kalian sudah familiar sekali dengan hadits ini. Betapa besar ganjarannya kalo kita bisa nahan amarah kita dengan bersabar. Memang sih,yang namanya masalah pasti datang bertubi-tubi serasa tak ada habisnya. Ada saja masalah. Mulai dari yang sepele dari yang tingkat lanjutan. Lalu apakah setiap masalah tersebut harus kita sikapi dengan penuh emosi? Emosi justru akan membuat runyam masalah tersebut. mari kita renungi kisah yang disampaikan ustadz tadi dalam ceramahnya.
Pada suatu hari, Abu Bakar Ash-Sidiq ra bersama Rasulullah sedang berjalan bersama. Dalam perjalanan tersebut banyak orang-orang yang mengata-ngatai Abu Bakar dengan kata-kata yang sungguh sebenarnya menyakitkan hatinya. Namun beliau diam. Dan karena melihat hal tersebut, Rasulullah SAW tersenyum. Begitu seterusnya sepanjang jalan beliau diikuti oleh beberapa orang musyrikin yang mengejeknya. Dan sepanjang itulah Rasul terus tersenyum melihat perilaku Abu bakar yang dapat sabar menahan emosinya. Tatkala orang tersebut ngototnya minta ampun dan tak kenal lelah mengejek, akhirnya Abu Bakar menggubris sedikit. Hanya sebagian ejekan tadi, tak seluruhnya. Kemudian Raslulullah justru mempercepat langkah dan pergi meninggalkannya. Abu Bakar pun mengejar Rasulullah. Setelah terkejar beliau bertanya, "Ada apa ya Rasulullah? Mengapa kau meninggalkanku? Padahal dari tadi bukankah kau terus tersenyum?". Rasulullah menjawab, "Aku tersenyum karena kau memilih diam dan bersabar dalam menghadapi orang yang mengejekmu tadi. Sehingga malaikat datang disisimu dan membelamu. Malaikat tersebut pun mencemooh orang-orang yang menghinamu. Namun, saat kau membalas (menggubris) cemoohan tadi barang sedikit saja, malaikat tersebut pergi dan datanglah setan mendekatimu. Aku tidak ingin majelis yang terdapat setan di dalamnya".

Yah, yang namanya jiwa muda, tempramennya sedang memuncak. Kesenggol dikit dah marah, "Kalo jalan pake mata dong!!!". Dan beragam cacian pun sering muncul dari mulut, yang sebenarnya adalah amanah dari Allah dan harus dijaga kesuciannya.

"Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat; sesungguhnya Allah adalah beserta orang-orang yang sabar"(QS. Al-Baqarah 153)


3. Ghibah
Ghibah yang beken dengan sebutan GOSIP or MENGGUNJING sudah bukan hal yang aneh lagi di masyarakat kita. Benar, bukan? Bayangkan saja pertelevisian pun mendukung tindakan ber-ghibah nasional bahkan international. Segala keburukan orang diumbar kemana-mana. Biasanya kan yang sering kita hakimi sebagai antek peng-gibah adalah ibu-ibu yang sering kumpul, tapi kenyataannya semua kalangan dapat mudah terjangkiti penyakit hati yang berbahaya ini. baik disadari atau tidak. Ghibah pada hakikatnya adalah membicarakan sesuatu yang apabila di dengar orang yang sedang dibicarakan, orang tersebut akan merasa malu, tersinggung dan sakit hatinya. Jleb..jleb..jleb.. lah. Bahasa gahoolnya, "Jeroo tenan nang ati". Kebayang gak kalo aib kita lagi diumbar? Sakit banget, ya kan? Dan Allah telah berfirman mengenai hal ghibah...

“Hai orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka (kecurigaan), karena sebagian prasangka adalah dosa; janganlah mencari-cari keburukan orang, dan jangan menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (Al-Hujurât [49]: 12)

Hiiy...Emang kita mau memakan bangkai saudara sendiri??? So,hati-hati dengan mulut ini, terutama yang dah kebiasaan meng-gibah. Rasulullah Saw bersabda:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari Muslim)

4. Takabbur
Takabbur atau sombong, pasti sobat pembaca dah tau artinya dong. Ya merasa dirinya yang paling baik. Hingga tak mau menerima kebenaran, sedangkan dirinya salah. Takabbur adalah sifat iblis. Iblis mulanya berasal dari jin. Karena amal ibadahnya yang luar biasa, Allah mengangkatnya ke surga untuk menjadi pimpinan para malaikat. Suatu saat, Allah menciptakan Adam dengan ilmunya, dan memerintahkan seluruh malaikat untuk bersujud padanya, termasuk iblis. Namun, sang iblis enggan untuk bersujud. Dia merasa tak pantas melakukannya, karena kesombongannya. Coba kita ingat kembali firman Allah yang artinya,

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada Para Malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”, Maka merekapun bersujud kecuali Iblis. Dia tidak Termasuk mereka yang bersujud.” (Q.S. Al-A’raf : 11).

Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu aku menyuruhmu?” Menjawab Iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang Dia Engkau ciptakan dari tanah. (Q.S. Al-A’raf : 12).

Nah, bagaimana dengan kita? Apakah kita ingin mengikuti iblis dengan kesombongannya? Hiiy, siapa sih (orang muslim berakal dan beriman) yang mau jadi pengikut Iblis?

Nah, sobat pembaca, bagaimana menurut kalian? Adakah penyakit-penyakit itu pernah atau sedang menjangkiti kita? Rugi dong kalo ibadah ini rusak gara-gara penyakit-penyakit tadi. Semoga kita terus melakukan perubahan ke arah kebaikan. Agar ibadah ini tidak rusak dan diterima Allah SWT. sebagai bekal kita di akhirat nanti. Yuk, kita bebenah diri terus!!! :D

Read More......

Sabtu, 11 Agustus 2012

Lahir Menangis, Mati Tersenyum

Alhamdulillah...aku mendapat pencerahan melalui sebuah intermezzo yang dilakukan oleh pembaca tromol (baca: takmir masjid) yang sebenarnya sudah pernah ku dengar, namun karena pembawaan beliau menarik dan penuh senyum, hal itu menjadi sesuatu yang baru bagiku. Membuka kembali pintu hati ini. Begini yang diceritakan beliau. Bismillah...

"Apa bedanya bayi yang lahir dan orang yang meninggal dunia?", tanya beliau. Apa hayoo kira2? Ada yang bisa menjawab?

"Sudah jelas bedanya. Bayi jika lahir orang-orang disekitarnya akan tersenyum bahagia, namun bayi itu justru menangis, bukan?", jawab beliau sendiri. Aku ber-"hmmm" mengangguk-angguk, sambil tersenyum berusaha menebak lanjutan kalimat beliau.

"Sedangkan orang yang meninggal atau mati seharusnya di tangisi oleh orang sekitar. Dan alangkah beruntungnya jika orang yang meninggal tersebut dalam keadaan tersenyum bahagia", lanjut beliau.

Dari intermezzo di atas bukankah kita bisa mengambil hikmah darinya? Pertama, selama kita hidup ini jadilah orang yang baik dan berguna bagi orang banyak. Karena banyak dari orang-orang di sekitar kita terutama ibu-bapak kita yang bahagia saat kita dilahirkan. Artinya, buatlah mereka bahagia pula dengan perilaku kita selama ini. Buatlah senyuman merekah di setiap orang yang melihat hasil perbuatan kita.

Kedua, manfaatkanlah setiap waktu dan usia yang diberikan Allah kepada kita untuk beribadah pada-Nya. Baik ibadah individu dan ibadah secara sosial. Kalian tahu pasti definisiku.

Bukankah itu semua harapan kita, menjadi seorang muslim sejati yang dicintai dan dirindukan kehadirannya oleh banyak orang? Dan pada saat kita berpisah dari mereka atau meninggal, mereka semua sedih dan terus akan mengenang amal baik kita terhadap mereka. Sehingga di akhir hayat nanti kita menjemput ajal dengan senyum bahagia. Karena rindu akan perjumpaan dengan-Nya. Subhanallah...

Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah SAW. bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.”
(HR. Thabrani dan Daruquthni)


Read More......

Nikmatnya Ibadah

Di sebuah masjid, seusai sholat asar berjamaah. Dua orang sahabat sedang berbincang. Sekalian ngabuburit biar kebagian takjil...

A: Eh sob, gue dah sholat, puasa juga, ibadah yang lain juga, tapi lama-lama kok bosen ye?
B: Ah, bosen gimane???
A: Lama-lama kerasa hambar. Gak bergairah lagi. Malah bikin capek.
B: Masak sih? Itu berarti, elu belom bisa nikmatin ibadah lu. Elu masih berpikir ibadah elu itu cuman buat gugurin kewajiban. Apa mungkin gitu sob? (menepuk pundak si A)
A: Ee..mungkin. Gua sholat karena gua takut diadzab kan wajib gak boleh ditinggal. Gue ngathamin Qur'an ngebut2, buat ngejer target. Gue puasa, soalnya kan dah gedhe malu kali kalo bolong. Gua shodaqoh ya masih sering ngirit2, takut uang jajan kurang. Hehehe.. (garuk-garuk kepala)
B: Coba deh lu renungkan lagi. Bukankah ibadah kita itu untuk diri kita? Untuk kebaikan kita?
A: Hmmm..iya sih..
B: Nah, sama aja halnya kayak makanan. Elu makan biar elu puas dan kenyang. Nikmat kan rasanya?
A: Iye sih..
B: Kenape lu gak posisikan ibadah lu macem makanan yang hendak elu santap karna elu butuh tu makanan. Nikmatin deh sekunyah demi sekunyah, pelan-pelan biar gak keselek. Nah, dengan elu nikmatin tu makanan pastinya habis makan elu bersyukur. Begitu juga ibadah. Setelah elu merasa rohani lu kenyang, dan elu merasakan nikmat pasti elu bakal bersyukur pada yang telah kasih kesempatan elu umur. Buat nikmatin tu ibadah. Jadi sob, ibadah itu harus kita jadikan suatu kebutuhan untuk memperoleh nikmat sebagai tanda rasa syukur kepada Allah azza wa jalla. Gimana sob?
A: Oke deh, ane coba nikmatin tu ibadah.
B: Nyang penting ikhlas, karena Allah. Jangan pengen diliatin si doi aj lu baru rajin ngibadah. hehe..
A: Iye2,,gua ngarti.
B: Eh, tadarussan yok. Noh, adek2 dah pada nungguin.
A: Oke deh..Eh ambil wudhu dulu ya.. barusan batal ni. Hehe
B: Hmmpphh.. pantesan bau.. Dah buruan sono!
A: Hehe...

****

Mari kita renungi firman Allah ini:

“Katakanlah: ‘Maukah Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’ Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.”
(Al Kahfi: 103, 104)


Gimana coba kalo kita seperti si A? Rugi bukan? Oleh karena itu, ayo kita tumbuhkan keikhlasan dan kesadaran akan nikmat beribadah dalam diri kita. Selangkah demi selangkah, perlahan tapi pasti. Dengan niat mengharap ridha Allah SWT. Kalo yang ngrasa masih belum nikmat juga perlu dipertanyakan lagi, dah bener belum dalam melaksanakan tata cara ibadah tersebut? Apakah sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW??? Karena tentu hal itu juga mempengaruhi nilai ibadah kita. Coba kita pahami sabda Rasul ini,

“Barangsiapa yang melakukan satu amalan (ibadah) yang tiada dasarnya dari kami maka ia tertolak.” (HR. Muslim)

Semoga kita senantiasa meng-upgrade keimanan kita, menjadi pribadi islam yang kaffah (Sebenar-benarnya).. Dengan terus belajar ilmu untuk kesempurnaan ibadah kita.. Keep fighting!!! Bismillah :D







Read More......