Tampilkan postingan dengan label Sragen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sragen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Agustus 2012

Mencari Kebersamaan

Beberapa hari yang lalu, aku dan Ugga (manusia ini belum aku ceritakan sebelumnya. Tidak terlalu penting sih) pergi ke Yogyakarta. Bertualang mencari buku di toko buku favorit kami. Yang terletak di sebelah taman pintar, di daerah bernama Shopping Centre. Toko buku itu adalah toko buku BANGKIT. Kita telah mengenal Mas Antok, penjaga tokonya sejak SMA dulu. Baik sekali orangnya. Sambutan hangat selalu ia berikan pada kita saat berkunjung kesana. Ibu pemilik tokonya juga ramah. Dan yang paling membuat kita sering berkunjung kesana juga karena potongan harganya. Ya akhirnya kita mendapat buku yang kita inginkan.


Di Yogyakarta aku menginap di rumah kakek nenek. Sudah lama aku tak kesana. Bertanya kabar. Atau sekedar menegur sapa. Maklum sekarang rumah kami jauh dari Yogyakarta. Jadi aku sempatkan sehari untuk mengunjungi mereka. Mumpung masih di ‘Jawa’. Nah, aku sempatkan pula berkunjung ke toko buku. Setelah di rumah Kakek Nenekku aku mengunjungi rumah Pakdhe. Ya dengan niat yang sama, bersilaturahmi. Jadilah kita menikmati buka dan sahur gratis. Hehe..

Nah tadi hanyalah prolog dari inti cerita yang ingin kuutarakan. Sepulang dari Yogya, aku menuju ke SBBS. Kembali lagi. Sesampai di sana, dan baru sampai, kita (aku dan Ugga) langsung diajak pak Eko menemani anak-anak kelas 7 ke Solo Square untuk berbuka di KFC. Kami sontak senang sekali dong. Hehe. Selain dapat buka gratis kita dapat lebih mengenal adik-adik yang baru masuk ke SBBS ini. Menjaga mereka seperti yang abi-abi (baca: pembina asrama) lakukan terhadap kita dulu selama di SBBS. Perjalanan pun di mulai. Pukul 16.15 dengan pakaian seadanya dan bermodal PD. Dengan mengucap bismillah tentunya.

Di dalam bus, aku berkenalan dengan tiap anak. Menyalami mereka menanyakan nama dan asal mereka. Persis seperti yang abi-abi dulu lakukan. Alhamdulillah kehadiran kami diantara mereka disambut hangat dan bersahabat. Menyenangkan sekali adik-adik kelas 7 yang masih imut-imut dan berwajah innocent ini. Maka aku berniat untuk menjaga mereka dan berusaha sebaik mungkin menjadi teladan yang benar bagi mereka.

Segera setelah tiba di SoloSquare kita menuju ke TKP. Sudah kuduga yang namanya anak kecil, mereka berlari riang ramai menjadi pusat perhatian orang sekitar. Aku hanya tersenyum dan menggiring mereka agar tertib berjalan. Setelah mereka duduk di tempat masing-masing, aku mengambil foto-foto mereka. Benar-benar tak bisa diam. Menyenangkan.

Adzan magrib berkumandang, setelah Naga, ketua kelas 7 memimpin doa kita semua menyantap dengan nikmat ayam dengan resep special KFC itu. Dengan lahap mereka makan. Makanku pun makin tambah bernafsu melihat mereka bahagia.

Sholat magrib kami lakukan di sebuah mushola kecil milik mall yang terletak terpencil di sudut basement. Miris sekali. Dengan mall yang begitu megah seperti ini, mushollanya tampak sekali kurang diperhatikan. Kecil, sempit, pengap, laki dan perempuan dipisah, jauh dari kata indah apalagi suci. Resiko menyentuh lawan jenis pun besar. Bahkan saat mengantri wudhu kita bisa bertatap muka dengan jarak pandang hanya 30 cm. Semoga sholat kami diterima.

Pak Eko berpesan kepadaku dan Ugga untuk menjaga mereka selama berada di mall dan kembali pada pukul 8 tepat. Perintah kami terima dan siap kami laksanakan. Perjuangan sesungguhnya menjadi abi pun dimulai disini.

Mereka semua berpencar. Mereka bilang ingin ke toko buku, ke time zone, dan ada yang masih bingung entah mau kemana begitu pula denganku. Aku putuskan untuk menunggu mereka di Gramedia. Membaca buku gratis walau harus dibayar dengan pegal di kaki karena pihak toko gramedia tidak menyediakan kursi untuk pembeli. Atau boleh dibilang mereka sudah tahu taktik kita. yang berkunjung ke gramedia sekedar untuk membaca gratis. Hal itu memang nyata. Aku melihat ada rombongan anak SMA sedang duduk di lantai, sembunyi membaca buku yang tidak di segel. Karena memang tidak ada larangan untuk tidak boleh membaca di gramedia ini. Di gramedia yang lain pun demikian. Maka, beruntunglah si pembaca cepat. Tak perlu biaya untuk membaca buku best seller. Alias baca di tempat!

Di gramedia aku bertemu Alfan. ia satu angkatan denganku. Ternyata ia senasib, diperintah untuk menjaga adik-adik kelas. Namun, ia disuruh menjaga adik kelas 10. Lebih dewasa dan tentu mudah diatur. Aku juga bertemu dengan Hepi Abi. Dia ternyata alumni Semesta yang baru saja lulus S1 di METU (Middle East Technical University). Super! Dia sepertinya termasuk angkatan pertama yang lulus kuliah di Turki. Aku ingin sekali menyusulnya. Berkuliah di METU pula. Dan lulus dengan IP yang baik. aamiin. Aku masih menunggu pengumuman jurusan. Mohon doanya kawan.

Sudah hampir pukul 8, dan mereka belum juga lengkap. Mereka ber 25. Whew, apakah aku harus ke resepsionis dan mengumumkan anak-anak rombongan dari SBBS segera berkumpul untuk kembali pulang? Tak perlu kurasa. Jadi aku putuskan menunggu. Apakah mereka dapat mengemban tanggung jawab itu? Meski mereka masih kelas 7, mereka harus tahu yang namanya tanggung jawab. Tadi sebelum mereka pergi, aku sudah berpesan pada mereka agar berkumpul tepat waktu. Pukul 8 tepat kita berangkat.

Satu per satu dari mereka berdatangan. Sudah kuduga, aku sudah percaya pada mereka. Dan mereka datang tepat waktu! Segera setelah lengkap kita bergegas pulang. Naik bus yang sama. Berdesak-desakan di dalam. Meski lelah, tampak keceriaan di wajah mereka. kutanyai satu per satu apa saja yang mereka lakukan di SoloSquare. Aku bersyukur bisa lebih dekat dengan mereka, meski hanya sebentar, karena aku harus kuliah. Namun, akan kusimpan ini sebagai pengalaman berharga dalam hidupku. Aku tak mengharap mereka ingat denganku, tapi aku pasti akan mengingat mereka. suatu saat pasti kita akan bertemu. Dan mereka pasti sudah tumbuh lebih dewasa. Waktu yang akan mempertemukan kita. Semoga opsi kehidupan kami bersinggungan.



Read More......

Senin, 30 Juli 2012

Musyawarah Besar ANTARES I


Hari sabtu, 28-29 Agustus 2012 adalah hari yang bersejarah. MUBES pertama menghasilkan nama ANTARES, undang-undang dan ketuanya. Apa itu ANTARES? Hasil kesepakatan Forum, nama itu digunakan sebagai nama angkatan SBBS sampai kapanpun. Sebenarnya sudah dicalonkan beberapa nama. Ada Kupu-kupu, Kertas, KUAS, Asmanjaya, Horizon, sisanya aku lupa. Perdebatan pun berlangsung. Calon kuat adalah ANTARES dan ASMANJAYA. Tahukah kalian Antares? Aku juga kurang tahu sebenarnya. Kata mas Ali itu adalah bintang terbesar di jagad raya kita. bermakna bahwa kita, alumni SBBS akan selalu terang bersinar menyinari dunia dengan ilmu.cukuop keren menurutku. Lalu apa itu ASMANJAYA? Nama yang unik dan terkesan kedaerahan bukan? Kepanjangannya adalah “Alumni SBBS MANtap JAYA!!!”, seru mas Septian, alumni angkatan ’08. Nama ini cukup menuai kontroversi. Terutama dari Adrison Abi yang mengatakan bahwa nama itu seperti nama jamu. Mas Septian terdiam mengalah. Padahal aku yakin banyak yang mendukung gagasan mas Septian dilihat dari perdebatan yang cukup panas. Dan akhirnya ANTARES lah yang berjaya. Menang mutlak atas voting dari kongres. Harap menerima. Bagaimana denganku? Seperti biasa, aku ada di sisi putih. Golongan yang cinta damai, menghindari perdebatan dan mengikuti suara mayoritas. Atau mudahnya disebut “manutan”. Haha..itulah tipikalku. hingga perdebatan ini krusial aku akan ikut campur namun untuk hal yang satu itu, aku manut saja.

Setelah nama ANTARES disahkan, dibuatlah yang namanya Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Terdiri dari Bab-bab yang masing-masingnya berisi pasal-pasal. Penyusunan AD dan ART ini amatlah penting karena inilah yang mendasari kinerja dari ANTARES itu sendiri. bagaikan fondasi, maka diperlukan fondasiyang kokoh untuk mendirikan bangunan yang megah, bukan? Musyawarah ini berlangsung cukup lama. Hampir lima jam kita bersitegang mempertahankan argumen masing-masing mengenai pembentukan AD dan ART tersebut. tepat pukul 13.00 AD dan ART telah disahkan. Lega rasanya. 

Nama sudah, fondasi/ undang-undang sudah kemudian berlanjut untuk memilih ketua pertama bagi ANTARES. Aku sudah menebak calon yang kuat adalah mereka yang selama sidang duduk di depan. Memimpin jalannya sidang. Tampak sekali bukan. Yaitu Mas Ade, Mas Bachtiar dan Mas Salahuddin. Keberatan berkali-kali muncul dari pihak calon ketua. Masing-masing memiliki alasan mengapa tidak ingin dirinya di calonkan. Mas Salahuddin tidak ingin dicalonkan karena kesibukannya berorganisasi di kampus. Mas Ade juga demikian. Namun, untuk Mas Ade yang sebenarnya calon kuat, tampaknya memang bakal kewalaha jika ia terpilih sebagai ketua ANTARES karena selain dia ikut berorganisasi macam-macam ia juga perlu meningkatkan nilai akademiknya. Maklum lah dia dituntut profesional karena di adalah calon dokter dari UGM. Aku salut pada mas Ade. Untuk mas Bachtiar ia mengaku belum mampu dan kurang berpengalaman. Namun, hasil ada di tangan forum dalam MUBES ini.

Setelah berunding lima belas menitan, forum telah menentukan. Dan yang menjadi ketua ANTARES pertama adalah mas Salahuddin dengan masa kepemimpinan dua tahun. Sorak riuh tepuk tangan dipersembahkan oleh Mas Salahuddin. Sebuah pilihan yang tepat. Menurutku. 

MUBES pertama berakhir, semuanya pulang. Meski tak diiringi haru isak tangis yang memang tak perlu, namun perpisahan ini terasa berat. Yah, tapi kita yakin akan terus berkomunikasi. Meski sekedar menanyakan kabar. Dan memang perlu. Ya kita tunggu apa yang akan direncanakan ANTARES nanti. Aku tetap setia mengikuti.

Read More......

Sabtu, 28 Juli 2012

Senja di Tanah Gemolong

Alhamdulillah, sore ini aku sempat merasakan siraman sang mentari tepat di wajahku. Begitu hangat namun menyilaukan. Hari ini aku tiba di tanah Gemolong, dimana aku pernah menjadi bagian dari sejarah kota ini. Ya, 3 tahun aku bersekolah di SMAN SBBS. Disinilah aku mengenal banyak hal. Rasa memahami, mentoleransi, saling berbagi, berempati dan banyak ilmu-ilmu kehidupan yang telah aku pelajari disini.
Angin sepoy-sepoy mengerak-gerakkan ringan rambut keritingku. Kubiarkan ia menerpa tepat diwajah. Aku begitu menikmatinya. Sudah lama aku meninggalkan kota sejuta kenangan ini. Sebenarnya baru dua bulan sih. Tapi entah rasanya seperti bertahun-tahun. Dan hari ini, aku kembali ke sini. Entahlah, aku mengikuti suara hati.
Sudah aku niatkan sebelumnya hijrah ini untuk bersilaturahmi. Menghangatkan kembali persaudaraan dengan teman seangkatan, kakak angkatan serta adik-adik kelasku. Aku benar-benar rindu bersama diantara mereka. Melalui hari bersama di tanah Gemolong ini.
#######

Pukul 20.20 hingga pukul 6.40 bukan lah perjalanan yang singkat. Pernahkah kau merasakan menunggu? Terasa lama bukan? Apalagi kalau waktunya memang benar-benar lama. Perjalanan yang kutempuh memang terasa sepi. Aku sendirian. Tak ada teman yang bisa diajak bicara. Hanya sesekali aku membalas senyuman orang-orang yang aku lewati di gerbong kereta. Karena kebetulan aku duduk sendiri. dalam menunggu itu aku mendapatkan banyak hal. Sebuah perenungan yang amat dalam. Yang membuahkan penyesalan. Menyesal? Bolehkah kita menyesal? Boleh-boleh saja menurutku asal penyesalan itu kau gunakan untuk memperbaiki dirimu. Agar tak timbul penyesalan yang sama. Penyesalan yang terulang memang  terasa menyakitkan, bukan?
Dalam perjalanan itu aku merasakan kedamaian. Kedamaian yang jarang aku rasakan. Ah, betapa seringnya aku terlena dan mengikuti setan serta nafsu duniaku. Membaca Alqur’an lah yang membuatku damai. Ya, damai hingga kedalam hati yang terdalam. Awalnya memang sungkan. Karena aku berada di tempat umum. Tidak lazim bukan?
Tidak lazim? Siapa yang bilang tidak lazim? Bukankah muslim seharusnya begitu? MengingatNya dimana-mana? Dan salah satunya adalah dengan membaca Al-qur’an. Namun mengapa aku merasa asing sendiri? diantara kerumunan aku merundukkan kepala. Berusaha kusyuk menikmati membaca Al-Qur’an. Terbesit dipikiran sebuah hal yang buruk. Merasa diri sok suci dan alim padahal aku tak pantas. Sedangkan kebanyakan lainnya sibuk dengan obrolan, HP, atau hal lain aku merasa aku yang paling alim. Segera kuhapuskan pikiran-pikiran itu. Aku pasti tahu, nafsu ini hendak mengantarku pada sifat ria’. Nafsu ingin dipuji orang lain. Mengapa terlintas dibenakku? Aku paksakan untuk menghilangkan hal itu dan terus membaca kitab suci ini. Peduli amat dengan pikiran itu, peduli amat dengan tanggapan orang. Aku terus berusaha menenggelamkan diriku ke dalam lantunan Al-Qur’an yang aku baca sendiri.
Perjalanan benar-benar terasa panjang. Aku berusaha memejamkan mata dan memposisikan diri yang nyaman agar bisa terlelap tidur. Terus demikian. Berulang kali aku melihat ke jendela. Berharap fajar cepat menyingsing. Berkali-kali aku menggaruk-garuk rambutku yang tak terasa gatal. Mulutku komat-kamit menyambung dzikir yang sempat terputus karena lamunanku. Berusaha terus mengingatnya. Dan seketika aku terlelap tidur.
Aku terbangun lagi untuk ke beberapa kalinya. Suara penjaja makanan dan minuman itu muncul lagi. Di setiap stasiun berhenti, mereka bergerombol masuk ke gerbong dan mulai meneriakkan barang mereka. Ah, ribut sekali. Kesal aku mendengar mereka. Namun aku berpikir, mereka sedang ikhtiar. Memperjuangkan nasibnya. Menghidupi keluarga. Aku tahu pasti barang yang mereka tawarkan lebih mahal dari aslinya. Barang yang mereka jajakan entah darimana berasal. Bersih atau tidak. Baru atau lama. Ya pasti dalam benakku timbul seribu kecurigaan pada mereka. Tujuan mereka sebenarnya hanya satu mencari uang. Ah, kadang aku tak tega melihat jerih payah mereka. Namun diraut wajah mereka tak tampak sama sekali kesedihan. Yang ada adalah harapan besar demi keluarga. Ah, aku hanya beli sebotol aqua seharga tiga ribu saja. Maaf.
Fajar menyingsing. Seusai sahur dan sholat subhuh aku menikmati pemandangan pagi yang subhanallah luar biasa. Sawah melintang bak permadani kuning-hijau tergelar di hamparan luas kiri kanan sejauh mata memandang. Pegunungan gagah biru tampak sembunyi malu-malu dibelakang kabut. Angin pagi sepoy nan mendamaikan. Segala keindahan pagi ada pada saat itu. Dan hal ini menandakan aku sebentar lagi tiba di gemolong. Menuju sekolahku dulu. Bersilaturahmi.
#######
Sore ini menjadi saksi atas petualanganku selama di Jawa Tengah nanti. Semoga menyenangkan dan banyak hikmah yang dapat kupetik. Ya, aku ingin bertualang.

Read More......

Rabu, 20 Juni 2012

Junior High Reunion (Part 1)

B Bagaimana rasanya apabila kalian sudah lama tidak ertemu dengan sahabat yang amat kalian sayangi? kangen bukan? Bayangkan saja sudah banyak hal yang telah kalian lewatkan bersamanya. Suka duka bermacam rasa telah terukir dalam memori yang bakalan susah dihilangkan. Untuk itu pastilah ingin rasanya kita bisa bertemu dengan mereka. Setidaknya bisa melihat senyuman mereka.
Mereka adalah sahabat-sahabat yang telah menemaniku di masa SMP. Bukan hanya satu sekolah, tapi juga satu kelas, selama hampir 3 tahun masa SMP. sebenarnya, pernah juga diadakan acara reuni seperti ini. Namun, sayang sekali aku tidak sempat hadir. Selalu saja aku tak sempat gara-gara aku sudah mungkin pulang ke rumah duluan karena acara tersebut sering diadakan waktu liburan,. Atau bertepatan dengan acaraku lainnya. Selalu saja tidak cocok waktunya.
Nah, sekarang mumpung sedang pada liburan dan aku juga berada di Sragen, aku ingin sempatkan bertemu dengan mereka. Meskipun susah rasanya berkumpul lengkap 33 anak BEC (Best E Class). Jadi, aku sudah meng-SMS mereka, yang nomernya aku punya untuk datang ke SMP tanggal 21 July yang bertepatan dengan hari esok. semoga saja berjalan lancar.
Sebelumnya waktu kita adakan reunian, entah mengapa, pertemuan ini malah terasa berbeda. Ada rasa canggung, ah, entahlah, apa mungkin karena sudah jarang bertemu ya. Jadi, pertemuan yang terakhir saat buka puasa beberapa bulan yang lalu terasa hambar. Maka, aku ingin untuk pertemuan besok menjadi sebuah pertemuan yang menyenangkan bagiku dan bagi mereka sahabatku.
Agar bisa berjalan dengan baik, akau harus menyusun rencana. Rencana tentang kegiatan apa saja yang akan kami laksanakan nanti. Beginilah gambaranku:
Salam
Berkumpul
Pembukaan (basa-basiku)
Snack time + ngobrol ringan
Tukar kado
Penutup
Tour ke rumah guru-guru
selesai, pulang ke Gemolong
Oke, semoga berhasil besok. kita lihat saja di part selanjutnya. apakah acara reunianku kali ini berjalan sukses? InsyaAllah bersambung. :)

Read More......

Jumat, 15 Juni 2012

Pidato Perpisahan (SBBS)

Tak terasa bung, masa SMA telah usai. Yeah seperti biasa waktu selalu berjalan dengan cepat. Serasa baru kemrin aku menginjakkan kakiku di SBBS, dan sekarang aku sudah lulus darinya. Malam graduation di emerald grand ballroom hotel paragon kali in, menjadi momen yang amat berharga. Apalalagi, aku diberi kesempatan untuk mewakili segenap siswa kelas 9 & 12 untuk  menyampaikan pidato perpisahan. Yeah, bingung sih. Habis aku belum pernah menyampaikan pidato di muka umum sebelumnya. Mentok-mentoknya juga di depan kelas. Jadi, aku berusaha melakukannya yang terbaik yang aku bisa. Dengan rahmat Allah yang Maha Kuasa, setelah mencari beberapa referensi (maaf tidak aku cantumkan) akhirnya selesailah pidatoku yang telah aku sampaikan 12 Mei lalu. Inilah pidatonya, semoga bisa bermanfaat juga untuk referensi pembaca.

Assalamu'alaikum wr.wb.

Yang terhormat Bp. Bupati Sragen atau yang mewakili Yang saya hormati Bp. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sragen atau yang mewakili Yang saya hormati Bp. Ketua Komite SMP-SMA N SBBS Yang saya hormati Bp. General Manager SMP-SMA N SBBS Yang Saya hormati Bp. Kepala SMP-SMA N SBBS Yang saya hormati segenap guru dan karyawan civitas akademika SMP-SMAN SBBS Yang saya hormati pula orang tua siswa dan seluruh tamu undangan Yang saya banggakan teman-teman kelas 12 dan adik-adik kelas yang saya cintai...
Marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT. karena atas limpahan rahmat, hidayah dan inayah-Nya kita semua dapat berkumpul, bertatap muka dalam acara perpisahan siswa kelas IX & XII SMP-SMA N SBBS. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, kepada shohabatnya, dan juga untuk kita selaku umatnya yang InsyaAllah akan selalu taat pada ajarannya.
Hadirin yang saya hormati
Acara perpisahan dan pelepasan siswa kelas IX & XII dengan keluarga Besar Sragen Bilingual Boarding School pada malam ini, merupakan momentum bersejarah yang akan senantiasa kami kenang, sebagai akhir dari perjalanan panjang dalam menjalani hari-hari, yang bergelimang dengan suka-duka, canda-tawa dan hal yang tak terlupakan lainnya. Semoga apa yang telah kami peroleh, dapat bermanfaat bagi diri kami sebagai bekal untuk melanjutkan studi ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Oleh karena itu, izinkanlah saya, mewakili segenap siswa kelas 9 & 12, untuk menyampaikan pidato dalam kesempatan yang berbahagia ini.
Hadirin yang berbahagia
Pidato ini saya awali dengan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh Bapak & Ibu guru yang telah mengaja kami. Karena atas jasa Bapak & Ibu gurulah kami mendapat banyak pencerahan ilmu. Atas jasa Bapak & Ibu Guru pula, yang telah membimbing dan menemani kami, dalam ajang pencarian jati diri selama bersekolah di SBBS. Sehingga, kami mengetahui banyak hal terutama tentang arti kehidupan dan perjuangan. Oleh sebab itu, sungguh tidak mungkin kami mampu membalas jasa-jasa bapak & ibu guru. Namun, kami akan berusaha untuk memberikan yang terbaik dari apa yang telah bapak & ibu guru berikan. Semoga kami mampu menjadi orang yang kelak membawa harapan bapak-ibu guru sekalian untuk menjadi seorang yang sukses, seperti Bapak-bapak yang duduk di barisan depan ini.
Kemudian, ingin rasanya menangis ketika mengenang kesalahan-kesalahan kami kepada bapak & ibu guru selama ini. Tak jarang kami tidak menaati perintahmu, mengabaikan nasehat-nasehatmu dan bahkan menyepelekan ilmu yang bapak & ibu guru berikan. Namun demikian, bapak & ibu guru tetap sabar dan tabah dalam menghadapi kenakalan kami. Bapak & ibu guru tetap menunjukkan rasa kasih sayang, seolah-olah menganggap kami sebagai anak sendiri. Sungguh kami telah menyesali semua perbuatan itu. Kesabaran, ketabahan, dan kasih sayangmu telah terpahat indah dalam hati-sanubari kami.
Selanjutnya, tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada segenap civitas akademika SMP-SMAN SBBS atas segala fasilitas, sarana dan prasarana yang telah disediakan, sehingga kami mampu menyelesaikan studi di sekolah kebanggaan kami ini dengan lancar.
Begitu pula kami sampaikan rasa terima kasih sekaligus permohonan maaf, kepada abi-abi yang telah ikut serta membimbing dan menjaga kami selama berada di asrama. Dengan kesabaran dan rasa kasih sayang yang telah kalian berikan, semoga menjadi sebuah pelajaran yang berharga bagi diri kami.
Kemudian adik-adik sekalian yang kami cintai
Hari-hari telah kita lalui bersama, dalam satu keluarga di bawah payung SBBS yang kita cintai ini. Telah banyak kenangan-kenangan yang tak terlupakan bersama denganmu. Telah banyak pula suka dan duka yang telah kita jalani. Tetapi semua itu hanya tinggal kenangan saja. Kami berharap semoga perbuatan baik yang telah kami lakukan bisa mejadi teladan bagi kalian. Namun, apabila ada perbuatan kami yang mungkin pernah menyinggung perasaan adik-adik, agar dimaafkan secara tulus-ikhlas.
Masih panjang perjalanan yang harus kalian lalui di SBBS ini. Maka dari itu, kami berpesan kepada kalian untuk selalu menjadi seorang siswa yang senatiasa menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, sikap disiplin, dan akhlak mulia. Karena tugas kalian adalah mendukung SBBS untuk merealisasikan program-programnya dalam rangka peningkatan mutu dan kualitas pendidikan.
TERUSLAH BERPRESTASI ADIK-ADIKKU !!!

Hadirin yang berbahagia
Di akhir pidato ini besar harapan kami untuk kedepan, semoga SBBS tetap eksis sebagai sekolah berasrama yang mengedapankan ilmu pengetahuan, pelajaran akhlak dan memiliki kekuatan ukhuwah, yang terus akan menghasilkan para CENDEKIAWAN berkualitas, berakhalakul karimah, siap bersaing di jenjang pendidikan yang lebih tinggi, berwawasan Nasional dan mampu manjawab tantangan global. Supaya kelak menjadi insan yang bermanfaat bagi nusa, bangsa, agama dan negara.
Ayri bir mekan olmasina rağmen, ama kalbimiz hep bir yerdedir. Bu yolda ayrilik yok asla, hem bizim kalplerimiz bir kalp için, zaman ve mekan önemli değildir, kalp zamanin ve mekanin uzerindedir.
Tidak ada perpisahan di jalan ini. Meskipun, kita berada di tempat yang berbeda, namun hati kita tetap menyatu. Perbedaan waktu dan tempat bukanlah sebuah halangan. Karena hati ini tidak mengenal ruang dan waktu...
Sekian pidato dari saya, apabila ada kata yang kurang berkenan, saya memohon maaf. Atas perhatian hadirin sekalian, saya mengucapkan terima kasih.
Wassalamu’alaikum wr.wb.

Read More......