Perbedaan...
Adalah suatu yang indah
Meski tak selamanya indah
Kadang menyakitkan
Kadang membingungkan
Perbedaan...
Adalah suatu yang bisa ditolerir
Dengan syarat tertentu
Selama itu benar dan hakiki
Tak menyimpang, tak menyesatkan
Perbedaan...
Dapat membangun persaudaraan
Dapat pula menciptakan peperangan
Karena mungkin salah satunya
Tak sesuai dengan jalan-Nya
Perbedaan..
Tak usah dipermasalahkan
Asalkan dirimu yakin
Berpegang pada dua cahaya abadi
Cahaya yang tak pernah redup
Perbedaan..
Pun dapat menimbulkan persatuan
Yaitu saling melengkapi
Menuju ke jalan kebenaran
Menuju jalan keindahan nan abadi
Hidup takkan berarti tanpa Iman
Iman dapat kita cari lewat renungan
Renungan kita dapatkan dari pembelajaran
Pembelajaran tentang ilmu Kehidupan...
Kamis, 25 April 2013
Perbedaan...
Selasa, 23 April 2013
Terbangun
Dimana aku berada?
Tempat yang tak kukenali
Mengelilingi memandangi diriku
Redup, sangat redup
Aku takut...
Kuberusaha mengingat
Barangkali aku pernah disini
Namun yang ada, hanya redup
Sedikit sekali cahaya
Aku takut...
Berjalanlah diriku
Entah kemana aku menuju
Dalam keredupan, dalam kedinginan
Melangkah tanpa arah
Aku takut...
Seberkas cahaya muncul
Berada jauh diujung dariku
Dibagian dimana keredupan pudar
Menjadi terang mempesona
Indah, elok, menenangkan...
Berlari meski terasa berat
Bernafas walaupun tersengal
Memaksa badan yang lemah ini
Menuju ke arah datangnya cahaya
Indah, elok, menenangkan...
Siluet seorang pemuda nampak
Siapakah dia gerangan?
Kuberlari semakin kencang
Hanya menuju sumber cahaya
Indah, elok, menenangkan...
Semakin dekat kudengannya
Semakin tampak fisik rupanya
Aku merasa mengenalinya
Entah kapan, entah dimana
Aku yakin, aku mengenalinya
Kudengar salam darinya
Merdu, menenangkan
Seiring salam yang dia ucapkan,
cahaya semakin terang
Hangat dan mendamaikan ...
Terang...Aku pun Terbangun...
Pelaut yang Lupa
Samudera biru yang tergelar
Membiru indah menyelimuti bumi
Berkemilau diterpa sang surya
Sungguh menandakan kebesaran Sang Pencipta
Nampak sebuah titik dari kejauhan
Siapakah gerangan?
Adalah seorang pelaut yang memeluk lutut
Pucat pasi, pakaian lusuh, kedinginan
Nampak kehancuran di perahunya
Menampakkan dahsyatnya Sang ombak
Menyisakan isak dari sang pelaut
Dari sisinya, tak nampak pulau terdekat
Masih cukup jauh harus berlayar
Namun, sudah tak ada daya lagi
Sang pelaut hanya diam,
Mungkin menanti ajal
Apakah dia lupa sesuatu?
Teringatlah sang pelaut
Apa yang telah terjadi padanya
Perjalanannya berawal dari kota kelahirannya
Ia ingin menuju pulau lain
Mencari kehidupan
Ditinggalkanlah ayah bundanya
Serta seluruh saudaranya
Meski mereka relakan kepergiannya
Nampak berat terasa dihati
Sang pelaut ingat
Ia hanya bermodal nekat
Tanpa persiapan matang,
Tanpa bekal, tanpa ilmu yang cukup
Ia pasrah dengan keadaan dirinya
Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya
Ia terombang-ambing di luasnya samudra
Apakah dia lupa sesuatu?
Sahabat...
Sahabat...
Bagaikan sebuah payung,
menahan air agar kita tak basah
Bagaikan seutas tali,
membantu naik dari jurang yang dalam
Bagaikan seberkas cahaya,
yang menunjukkan jalan keluar
Dan bagai angin nan sepoy
Menyejukkan, mendamaikan...
Itulah gambaran sahabat..
Yang tersambung melalui ukhuwah
Ukhuwah atas persaudaraan islam
Yang dipertemukan oleh Allah
Dalam jalan perjuangan menuju tanah abadi
Cukuplah Allah Bagi Kita
Bukankah Allah itu selalu ada
Siap menerima keluhan
Senang melihat tetesan air mata penyesalan
Selalu menunggu hamba-Nya,
Di pintu pertaubatan
Coba bayangkan diri kita,
Kehidupan kita di masa lampau
Mengulas kembali apa yang telah berlalu
Sebagai introspeksi untuk perbaikan
Allah selalu akan hadir disisimu
Menanggapi segala masalah
Tergantung diri ini, maukah kau mendekatinya?
Sungguh, cukuplah Allah sebagai penolong kita...
Rabu, 08 Agustus 2012
Ketika Malam Datang Menjelang
Ketika malam datang menjelang
Jiwa-jiwa nan lelah kembali ke tempat naungan
Menjemput rindu beserta orang tercinta
Tak peduli pilu meski terasa ngilu
Cinta terus berpadu
Berpilin indah berpadu dalam kalbu
Kehangatan menyambut suka cita
Kala senyum merekah terukir indah di wajahmu
Suatu saat nanti...
Saat kusiap menjemput dirimu..
Atas dasar cinta pada Sang Pencipta malam..
Menyesal itu Indah
Penyesalan adalah sebuah keindahan
Jika kau sadar manfaat darinya
Tangisi dengan syahdu di hati
Tekad bangun bangkitkan diri
Tak ada manusia yang suci
Kesalahan adalah hal yang biasa
Namun hanyalah rugi baginya
Melakukan yang sama bahkan berulang
Dia Maha Melihat
Maha Mendengar
Lagi Maha Pengampun
Diberikannya sebuah kesepatan
Karena kasih sayangNya pada tiap insan
Sadarkah diri kita?
Tangisi lalu benahi diri
Akupun masih mencoba
Kembali menuju jalannya yang lurus..
Agar diri selalu dekat denganNya
Agar tenang hati terpatri
Hingga akhir hayat nanti...
Agar nama kita disebutNya
Hingga di akhirat kelak surga menanti
Berbagilah Ilmu
Detik demi detik waktu bergulir
Mengalir tanpa henti
Takkan menunggu jiwa yang ragu
Terdiam dan tanpa harapan
Satu hari setiap insan
Tampak sama namun berbeda
Yang tuangkan ilmu dengan beramal
Tak sia siakah ia akan titipanNya
Yang hanya memendam ilmu tak peduli
Merugilah ia Allah murka padanya
Yang tak berilmu dan tak mau tahu
Sudah jangan ditanya lagi
Mengajak berbuat kebaikan
Telah dicontohkan Sang manusia maksum
Berabad yang lalu lamanya
Dengan segala akhlak surganya
Bisakah kita seperti dirinya?
Memberikan cahayaNya pada umatnya?
Keberanian ini sering sirna
Kala lisan hendak berdakwah
Mengajak sesama berjalan bersama
Menapaki hidup atas ridhaNya
Entah mengapa..
Namun jika terus begitu
Indahnya hidup akan lenyap
Ketenangan hilang tanpa suara
Kedamaian tenggelam dalam lautan duka
Segalanya akan jauh dari naunganNya
Tersesat dari jalan rahmatNya
Tiap hati kan mati
Hanya tawa dunia puaskan semu di jiwa
Kebaikan bukanlah kesalahan
Sungguh berbeda
Lalu mengapa harus ditakutkan?
Sampaikan itu pada sesama
Dengan hiasan yang cantik tentunya
Agar diterima dengan bahagia,
tiap hati yang menyambutnya
Agar cahaya di hati,
tak akan padam dan terus berpendar...
Kampung Rindu
Kembali ke kampung rindu
Menunggu pun menjadi sahabat
Menanti esok mentari pagi
Tanda tiba di kampung rindu
Ayah bunda telah menantiku
Berdoa akan berjumpa denganku
Mengantar senyum pada diriku
Melepas rindu yang lama mengganggu
Langit kelam nampak indah memesona
Menenangkan jiwa hanyutkan raga
Kedalam lautan sejuta keindahan
Gemerlap lampu temaram menghiasi
Bak emas permata indah memikat hati
Namun kalah indah oleh rembulan
Memikat hati terlenalah Sang Malam
Sungguh mesra mereka berdua
Lenguhan kereta menderu
Mengagetkan para penghuni malam
Membisu beralih pergi
Sakit hati entah apapun itu
Hanya puisi yang ingin kutulis
Meski tak pandai diri bercakap
Biarkan saja hati menulis
Tuangkan rasa rindu yang lama terpendam
Rindu akan bermacam sebab...
Tak perlulah kalian tahu
Cukup diriku dan diriNya saja...
Kau Pemilik Mutiara
Wahai sang pemilik mutiara
Kulihat kau sungguh menjaganya
Mempertahankan keindahannya
Untuk suatu saat, yang kelak menerimanya
Seberapa besarkah cintamu kepada-Nya?
Hingga kau rela acuhkan zaman
Abaikan segala kenikmatan fana
Menghindar dari hujaman fitnah
Seberapa besarkah cintamu kepada-Nya?
Hingga kau jaga mata sucimu
Dari segala kesemuan cinta
Yakin akan pertemuan kepada-Nya
Untuk menatap mesra jannah-Nya
Seberapa besarkah cintamu kepada-Nya?
Hingga kau lemahkan suara merdumu
Menahan lisan, memilih diam
Basahi bibir, berdzikir mengadu
Tetesan air mata penyesalanmu
Buat bidadari surga iri padamu,
wahai Sang pemilik mutiara
Harum semerbak kesturi
Dicanangkan sebagai parfum abadi dirimu
Seluruh penduduk langit kan takjim menatapmu
Serempak mengamini segala doa yang kau panjatkan
Atas segala usahamu itu,
wahai sang pemilik mutiara
Ah, pantaskah aku menerima mutiaramu?
Yang kelak akan sempurnakan agamaku
Mengantar diri menuju surgaNya
Bersama, berdua berjumpa dengan-Nya
Ah, pantaskah aku menerima mutiaramu?
Untuk dapat menjaga dirimu
Menjadi imam dalam bahtera
Arungi deras samudera berombak
Menuju surga di pulau langit
Suatu saat nanti
Jika dirimu belum dimiliki
Aku akan datang dengan mahar imanku
Meminang dirimu, berjanji menjagamu
Namun, aku takkan memaksamu menunggu
Hingga kelak aku dapat,
menyamai atau melampaui besarnya cintamu kepada-Nya
Banyak ahli surga lain yang pantas mendampingimu
Bahkan jauh lebih baik dariku
Walaupun demikian aku akan tetap mencoba
Berusaha menyamai atau melampaui besarnya cintamu kepada-Nya
Setidaknya, Dia pasti melihat usahaku,
dan tahu yang terbaik untukku
Begitu pula untukmu,
wahai sang pemilik mutiara...
Bukankah segala keputusan ada di tangan-Nya?
Pastilah waktu, sebagai perwakilan-Nya, akan memberi jawaban kelak...
Selasa, 07 Agustus 2012
Mengharap Cahaya
Kamis, 26 Juli 2012
Futur itu Menyakitkan
Apakah aku lupa?
Apakah nafsu telah menguasaiku?
Diriku pernah bercahaya dulu
اَللَّÙ‡ُÙ…َّ لا سَÙ‡ْÙ„َ Ø¥ِلاَّ Ù…َا جَعَÙ„ْتَÙ‡ُ سَÙ‡ْلاً Ùˆَ Ø£َÙ†ْتَ تَجْعَÙ„ُ الْØَزْÙ†َ Ø¥ِذَا Ø´ِئْتَ سَÙ‡ْلاً
Allaahumma Laa Sahla Illaa Maa Ja’altahu Sahlaa Wa Anta Taj’alul Hazna Idza Syi’ta Sahlaa“Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah. Dan apabila Engkau berkehendak, Engkau akan menjadikan kesusahan menjadi kemudahan.”
Read More......
Rabu, 27 Juni 2012
Hai Manis.... :3
![]() |
| *meong.... |
![]() |
| Masih segar.... |
Minggu, 18 September 2011
HARI INI ADALAH HARIMU
Bukalah gerbang pintu hari ini
Pastilah Sang surya tersenyum menyambutmu
Dengarkan kicauan burung yang merdu
Pandanglah embun pagi yang menawan hati
Awalilah hari ini dengan riang
Temuilah kawan yang kau kenal
Dan bersama merekalah
Buat hari ini menjadi gemilang
Langkahkan kakimu
Busungkan dadamu
Pandanglah ke depan
Dan telusuri hidup yang penuh liku
Yang kadang menyenangkan
Kadang pula menyedihkan
Jangan pernah menengok ke belakang
Berlarilah terus, gapailah angan hari ini
Jangan pernah ragu
Lakuka yang terbaik di hari ini
Karena hari ini adalah harimu
Arti Hidup Yang Hilang
Aku berlari mencari arti,
Arti hidup yang ingin kucari,
Aku tak kunjung mengerti,
Mengapa aku bingung begini,
Ku merasa apa yang aku lakukan salah,
Kuberbuat entah tanpa arah,
Rasa hati ingin meledak marah,
Mengapa hatiku kian resah,
Ya Allah Tuhanku,
Engkaulah Yang Maha Tahu,
Persoalan arti hidupku,
Maka tolonglah hambaMu,
Kini kuberpikir penuh kehampaan,
Berharap manggapai angan,
Untuk menuju ke gerbang kebahagiaan
Namun tak semudah membalikkan telapak tangan
Ingin kulupakan semua,
Hal yang membuat diriku lara,
Aku tak ingin putus asa,
Mencari arti hidup yang pernah hilang dan sirna
A Dream In an Illness
A dream came into my broken mindDelayed my desire to give up
Influenced my heart’s sound
Nothing would can change this adorable dream
Dream about someone who can cure all my illness
Although, I just can meet her once in a blue moon
Rabu, 17 Juni 2009
Arti Hidup Yang Hilang
Aku berlari mencari arti,
Arti hidup yang ingin kucari,
Aku tak kunjung mengerti,
Mengapa aku bingung begini,
Ku merasa apa yang aku lakukan salah,
Kuberbuat entah tanpa arah,
Rasa hati ingin meledak marah,
Mengapa hatiku kian resah,
Ya Allah Tuhanku,
Engkaulah Yang Maha Tahu,
Persoalan arti hidupku,
Maka tolonglah hambaMu,
Kini kuberpikir penuh kehampaan,
Berharap manggapai angan,
Untuk menuju ke gerbang kebahagiaan
Namun tak semudah membalikkan telapak tangan
Ingin kulupakan semua,
Hal yang membuat diriku lara,
Aku tak ingin putus asa,
Mencari arti hidup yang pernah hilang dan sirna
Sabtu, 13 Juni 2009
Sebuah Cerita Tentang Indonesia
Pernah ada satu cerita
Tentang Indonesia tercinta
Negaranya makmur kaya raya
Namun kini duka lara
Pernah ada satu cerita
Tentang tanah air tercinta
Rakyat makmur sejahtera
Namun kini banyak miskin papa
Salah siapa ini?
Yang membuat Indonesiaku seperti ini
Salah siapakah ini?
Penjahat berdasi kini kian merajalela
Membabi buta mengambil uang Negara
Tak peduli akan dosa
Dan siksa api neraka
Kabut hitam melanglang buana
Limbah si Pabrik yang kian merdeka
Kubangan Lumpur di timur sana
Seakan menelan pulau sejuta budayaku ini
Jago merah pun tak segan lagi
melalap jantung hijau negriku ini
Harga emas hitam yang semakin memuncak
Mencekik leher si papa yang kian nestapa
Aku merasa pilu..
Melihat Indonesiaku sekarang ini
Tuhan tolonglah kami
Kembalikan Indonesiaku
Seperti cerita yang pernah kudengar dulu


.jpg)